Jakarta – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth kembali menjadi sorotan dunia setelah pernyataannya dalam konferensi pers di Pentagon memicu perdebatan luas di masyarakat global. Dalam sesi jumpa pers terkait AS-Israel terhadap Iran dan pemboman ke anak-anak sekolah, Hegseth menyatakan bahwa musuh Amerika adalah kelompok yang menentang kebijakan perang hegemoni AS, tanpa memandang perbedaan mazhab Sunni atau Syiah.
Pernyataan itu muncul saat Hegseth menjawab pertanyaan wartawan mengenai sikap AS terhadap Iran yang mayoritas Syiah dan Afghanistan di bawah Taliban yang mayoritas Sunni. Ia menegaskan bahwa rezim Iran telah lama memusuhi Amerika selama beberapa dekade tarakhir khususnya telah AS melalui CIA mengkudeta PM Mohammad Mosaddegh dan dukungan Washington ke rejim otoriter Shah Pahlevi.
Afghanistan juga menjadi korban peperangan usai tenaga mereka tidak dibutuhkan lagi pasca runtuhnya kekuatan Uni Soviet dari negara tersebut di era Perang Dingin AS vs Soviet.
Menurut Hegseth, perbedaan Sunni dan Syiah tidak menjadi faktor penentu dalam menentukan musuh. Yang terpenting bagi Washington adalah apakah kelompok atau rezim tersebut menerima atau menolak hegemoni AS. Pernyataan ini disampaikan di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, di mana operasi militer AS dan Israel terus menambah korban sipil di Iran
Klips video singkat dari konferensi pers tersebut dengan cepat menyebar di platform media sosial X. Banyak pengguna menyoroti frasa “They are our enemies whether they are Sunni or Shia” sebagai bukti bahwa AS memusuhi umat Islam secara keseluruhan.
Namun, konteks lengkap pernyataan Hegseth menunjukkan fokus pada kelompok pengkritik dan penolak agresi AS di berbagai negara. Ia menekankan bahwa Iran, meski Syiah dan pernah sejalan dengan AS di berbagai perang di Timur Tengah, selalu menolak hegemoni AS di kawasan.
Pernyataan ini datang di masa pemerintahan Donald Trump yang kembali berkuasa, di mana kebijakan luar negeri AS semakin tegas mendukung Israel khususnya setelah genosida kepada warga Palestina di Gaza okeh Tel Aviv yang sampai sekarang masih berlanjut.
Selain di Gaza, Israel juga membunuh warga sipil di Lebanon, Suriah Selatan (Quneitra) dan Tepi Barat Palestina.
Banyak analis geopolitik menilai pernyataan Hegseth sebagai upaya untuk menyatukan front melawan ancaman bersama. AS selama ini menjalin aliansi kuat dengan negara-negara Arab Sunni seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Namun keamanan negara-negara ini sekarang terancam usai serangan ke Iran, karena serang dilakukan melalui sejumlah pangkalan militer AS di berbagai negara tersebut.
Hubungan tersebut justru semakin erat di bawah pemerintahan Trump, termasuk melalui Abraham Accords yang menormalisasi hubungan Israel dengan beberapa negara Arab yang tidak menolak kebijakan genosida Tel Aviv kepada warga Palestina serta proyek Greater Israel.
