Minggu, 01 Februari 2026

    Admin2

    Afghan Fund dan Masa Depan Dana Beku

    Keberadaan Afghan Fund menjadi salah satu isu paling krusial dalam lanskap ekonomi dan politik Afghanistan pasca jatuhnya Kabul ke tangan Taliban pada Agustus 2021. Meski rakyat Afghanistan masih menderita akibat konflik sejak era Uni Soviet dan invasi AS awal tahun 2000-an, ternyata negara-negara Barat yang tak memberikan kompensasi justru menahan kekayaan rakyat Afghanistan di luar negeri dengan berbagai alasan.

    Afghan Fund dibentuk sebagai wadah penampungan sebagian cadangan devisa Bank Sentral Afghanistan yang sebelumnya tersimpan di luar negeri, terutama di Amerika Serikat. Dana tersebut dipisahkan dari kontrol langsung otoritas di Kabul dan ditempatkan di bawah pengawasan internasional guna mencegah penyalahgunaan untuk kepentingan politik atau militer.

    Sejak Taliban kembali berkuasa, akses Afghanistan terhadap sistem keuangan global terputus hampir total. Cadangan devisa yang mencapai miliaran dolar AS dibekukan, menyebabkan krisis likuiditas parah dan melemahnya mata uang Afghani. Dalam situasi inilah Afghan Fund diposisikan sebagai instrumen penyangga agar ekonomi Afghanistan tidak runtuh sepenuhnya.

    Pertanyaan utama yang terus mengemuka adalah apakah dana dalam Afghan Fund dapat dicairkan suatu hari nanti. Jawabannya bergantung pada perkembangan politik dan tata kelola pemerintahan di Afghanistan, bukan semata pada kebutuhan ekonomi yang mendesak. Komunitas internasional menempatkan syarat ketat sebelum dana tersebut bisa dikembalikan ke otoritas nasional.

    Salah satu prasyarat utama pencairan penuh adalah pengakuan internasional terhadap pemerintahan Afghanistan. Tanpa legitimasi politik, dana tersebut dianggap terlalu berisiko jika diserahkan langsung ke bank sentral di Kabul. Hingga kini, pengakuan itu masih jauh dari kenyataan akibat berbagai isu hak asasi manusia dan inklusivitas pemerintahan.

    Meski demikian, skenario pencairan parsial tetap terbuka. Beberapa negara dan lembaga keuangan internasional mendorong model teknokratis, di mana pengelolaan moneter diserahkan kepada profesional independen yang bebas dari intervensi politik. Dalam skema ini, dana tidak masuk ke kas negara, tetapi digunakan untuk fungsi moneter terbatas.

    Saat ini, Afghan Fund tidak berfungsi sebagai sumber pembiayaan pembangunan atau belanja negara. Dana tersebut lebih difokuskan untuk menjaga stabilitas makroekonomi minimum, khususnya dalam mencegah kejatuhan nilai mata uang Afghani yang dapat memperparah krisis kemanusiaan.

    Melalui mekanisme yang sangat terbatas, dana ini membantu menopang sistem perbankan agar tetap berfungsi. Likuiditas dasar dijaga agar transaksi penting seperti impor pangan, obat-obatan, dan bahan bakar masih dapat berlangsung meski dalam skala minimal.

    Selain itu, Afghan Fund juga berperan dalam memastikan bantuan kemanusiaan internasional dapat mengalir tanpa harus melewati struktur pemerintahan Taliban. Dana ini menjadi jembatan agar organisasi internasional dapat beroperasi tanpa melanggar rezim sanksi yang berlaku.

    Penting dicatat bahwa dana tersebut tidak boleh digunakan untuk membayar gaji aparat Taliban, mendanai sektor keamanan, atau membiayai agenda politik apa pun. Setiap penggunaan diawasi ketat dan dapat dihentikan sewaktu-waktu jika ditemukan pelanggaran.

    Dalam jangka panjang, keberadaan Afghan Fund mencerminkan dilema besar komunitas internasional. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk mencegah kehancuran ekonomi yang akan berdampak pada jutaan warga sipil. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa pelonggaran kontrol dapat memperkuat rezim yang belum memenuhi standar internasional.

    Sebagian pengamat menilai Afghan Fund sebagai kompromi antara sanksi dan kemanusiaan. Dana tersebut menjadi bentuk pengakuan tidak langsung bahwa menghukum negara secara ekonomi tanpa mekanisme penyangga justru akan memperburuk penderitaan rakyat.

    Namun, ada pula pandangan kritis yang menyebut bahwa dana ini berisiko terkuras secara perlahan tanpa pernah benar-benar kembali ke Afghanistan sebagai aset nasional. Jika krisis berlarut-larut, dana bisa habis untuk fungsi darurat tanpa meninggalkan fondasi pembangunan jangka panjang.

    Perbandingan dengan kasus Irak dan Libya kerap muncul dalam diskusi ini. Berbeda dengan Irak pasca-2003 yang tetap terhubung dengan sistem keuangan Barat, Afghanistan berada dalam isolasi hampir total, membuat jalur pemulihan ekonomi jauh lebih sempit.

    Bagi Taliban, Afghan Fund juga menjadi simbol keterbatasan kedaulatan ekonomi. Tanpa akses terhadap cadangan devisa sendiri, ruang gerak pemerintah de facto sangat terbatas, terutama dalam menstabilkan harga dan membayar impor strategis.

    Sementara itu, bagi negara-negara Barat, dana ini adalah alat tekanan politik. Selama syarat-syarat tertentu tidak dipenuhi, Afghan Fund akan tetap berada di luar jangkauan Kabul, sekaligus menjadi sinyal bahwa legitimasi internasional tidak bisa diperoleh tanpa perubahan nyata.

    Ke depan, masa depan Afghan Fund akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan Taliban sendiri. Setiap langkah menuju moderasi dan reformasi institusional dapat membuka peluang pencairan bertahap, meski tetap di bawah pengawasan ketat.

    Jika stabilitas politik tercapai, dana tersebut berpotensi menjadi modal awal rekonstruksi ekonomi Afghanistan yang hancur akibat konflik panjang. Namun jika ketegangan terus berlanjut, Afghan Fund kemungkinan besar hanya akan menjadi alat darurat yang bertahan di tengah kebuntuan politik.

    Afghan Fund bukan sekadar soal uang, melainkan cermin tekanan zalim kepada rakyat Afghanistan yang terus menderita oleh pihak hegemon yang tak bertanggung jawab. Dana ini menunjukkan bahwa di era globalisasi, kedaulatan ekonomi sangat bergantung pada legitimasi politik dan dominasi global.

    Nasib dana tersebut akan menjadi indikator penting apakah Afghanistan dapat kembali terintegrasi ke dalam sistem keuangan dunia atau tetap terperangkap dalam isolasi berkepanjangan yang dirancang oleh pihak asing untuk membuat rakyat Afghanisgan menderita selamanya.

    Admin2

    Gugatan Miliarder UEA dan Misteri Emas Lebanon


    Langkah drastis yang diambil miliarder Uni Emirat Arab, Khalaf Al Habtoor, mengguncang perhatian publik internasional setelah ia secara terbuka mengancam akan melakukan tindakan ekstrem terhadap aset propertinya di Beirut. Ketegangan ini mencuat ketika Al Habtoor menilai investasinya di Lebanon tidak lagi memperoleh perlindungan hukum dan kepastian finansial sebagaimana mestinya bagi investor asing. Perselisihan bermula dari kebijakan moneter ketat Lebanon yang membekukan dana besar milik Al Habtoor Group di perbankan lokal.

    Hambatan investasi yang dialami pengusaha properti ternama ini bukan disebabkan pelanggaran bisnis atau kesalahan manajemen internal. Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan dampak langsung dari krisis ekonomi sistemik yang melumpuhkan Lebanon sejak akhir 2019. Kebijakan kontrol modal yang diberlakukan otoritas moneter dan Bank Sentral Lebanon menjadi faktor utama yang menghalangi akses terhadap simpanan dalam valuta asing.

    Dalam pernyataan resminya, Al Habtoor Group mengungkapkan kerugian fantastis yang ditaksir melebihi 1,7 miliar dolar AS. Kerugian ini mencakup depresiasi nilai aset serta ketidakmampuan menarik likuiditas untuk membiayai operasional dan ekspansi usaha. Situasi tersebut membawa hubungan ekonomi antara investor asal UEA dan pemerintah Lebanon kembali ke titik terendah.

    Ketegangan ini bahkan melahirkan wacana yang tidak lazim di dunia properti global, yakni rencana memindahkan Hotel Metropolitan milik Al Habtoor keluar dari Lebanon. Ia sempat mengusulkan agar bangunan hotel 17 lantai tersebut dipotong menjadi beberapa bagian untuk kemudian dikirim ke negara lain yang dinilai lebih stabil. Meski terdengar ekstrem, Al Habtoor menegaskan keseriusannya dengan menyebut telah berkonsultasi dengan pakar konstruksi internasional.

    Di balik drama penarikan investasi asing tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai ketahanan finansial Lebanon yang diketahui masih memiliki cadangan emas dalam jumlah besar. Publik kerap mempertanyakan mengapa negara itu tampak tidak berdaya menghadapi krisis, padahal memiliki salah satu cadangan emas terbesar di Timur Tengah. Spekulasi pun berkembang terkait keberadaan emas negara yang sebagian disimpan di luar negeri.

    Secara historis, cadangan emas Lebanon memang tidak seluruhnya disimpan di Beirut. Sejak dekade 1970-an, sebagian emas negara secara resmi dititipkan di Federal Reserve Bank of New York sebagai langkah pengamanan selama perang saudara. Kebijakan ini bertujuan melindungi aset strategis negara dari risiko konflik internal dan ketidakstabilan politik.

    Namun anggapan bahwa Amerika Serikat menahan atau membekukan emas Lebanon merupakan kekeliruan yang perlu diluruskan. Tidak ada sanksi internasional atau perintah eksekutif AS yang menyita emas tersebut. Hambatan utama justru berasal dari regulasi domestik Lebanon sendiri yang sangat ketat dalam mengatur penggunaan aset emas negara.

    Pada 1986, parlemen Lebanon mengesahkan Undang-Undang Nomor 42 yang secara tegas melarang penjualan, pemindahan, atau pengagunan emas negara tanpa persetujuan legislatif. Aturan ini dirancang sebagai benteng terakhir untuk mencegah penyalahgunaan aset strategis oleh penguasa yang tidak bertanggung jawab.

    Akibatnya, pemerintah Lebanon kini berada dalam dilema besar. Negara memiliki aset bernilai puluhan miliar dolar, namun tidak dapat menggunakannya untuk meredam krisis. Emas tersebut dipandang sebagai simbol kedaulatan terakhir, sementara cadangan devisa tunai terus menipis untuk membiayai subsidi dan kebutuhan pokok rakyat.

    Krisis devisa inilah yang secara langsung berdampak pada investor seperti Al Habtoor. Bank-bank lokal tidak lagi memiliki likuiditas dolar yang cukup untuk memenuhi permintaan penarikan. Bank Sentral Lebanon memprioritaskan sisa devisa untuk kebutuhan domestik, menciptakan dilema antara menjaga stabilitas sosial dan melindungi hak investor asing.

    Ketiadaan reformasi struktural di sektor perbankan membuat banyak pengusaha menilai investasi di Lebanon sebagai risiko ekstrem. Al Habtoor mengaku telah menunggu perubahan kebijakan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memilih jalur hukum internasional. Ia menuding Lebanon melanggar perjanjian perlindungan investasi bilateral.

    Selain faktor ekonomi, dinamika politik regional turut memperburuk iklim investasi. Pengaruh kelompok politik tertentu yang berseberangan dengan negara-negara Teluk menciptakan ketidaknyamanan geopolitik bagi investor UEA. Risiko berbisnis di Lebanon kini dipandang tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga politis.

    Para analis menilai gugatan Al Habtoor berpotensi menjadi preseden berbahaya. Jika tuntutan ini dikabulkan, Lebanon bisa dipaksa membayar kompensasi besar di tengah kondisi fiskal yang nyaris kolaps. Hal tersebut berisiko mempercepat kebangkrutan negara.

    Di dalam negeri, rencana pemindahan Hotel Metropolitan disambut dengan kekecewaan dan kekhawatiran. Hotel ini merupakan simbol kejayaan pariwisata Beirut sebelum krisis ekonomi dan ledakan pelabuhan 2020. Kehilangan investor besar akan menjadi pukulan berat bagi sektor pariwisata.

    Terkait cadangan emas di AS, sejumlah pihak mendorong pemanfaatan terbatas melalui mekanisme hukum. Namun usulan ini ditentang keras oleh kelompok oposisi yang khawatir hasilnya akan dikorupsi. Tingkat ketidakpercayaan publik terhadap elite politik menjadi penghalang utama.

    Lebanon kerap digambarkan sebagai negara kaya yang jatuh miskin akibat sistem keuangan yang gagal. Cadangan emas bernilai lebih dari 40 miliar dolar seharusnya bisa menjadi jaminan restrukturisasi utang nasional. Namun tanpa reformasi transparan, aset sebesar apa pun tidak akan cukup.

    Perselisihan Al Habtoor dengan otoritas Lebanon mencerminkan rapuhnya perlindungan modal asing di negara yang mengalami kegagalan moneter. Bagi pengusaha global, kontrol modal adalah sinyal bahaya yang mematikan arus kas.

    Kini dunia menanti respons pemerintah Lebanon. Apakah mereka akan mereformasi hukum emas yang sakral, atau membiarkan ekonomi terus terpuruk demi menjaga aset tetap utuh. Keputusan ini akan menentukan masa depan Lebanon di mata investor internasional.

    Bagi Al Habtoor, kepastian hukum adalah harga mati. Ia menegaskan bahwa kedekatan emosional dengan Lebanon tidak dapat menutup kerugian miliaran dolar akibat kebijakan yang dinilainya keliru.

    Pada akhirnya, nasib rakyat Lebanon bergantung pada keberanian pemimpin mereka melakukan reformasi radikal dan transparan. Tanpa jaminan keamanan aset, investasi asing akan terus menjauh, meninggalkan Lebanon dalam bayang-bayang krisis yang berkepanjangan.

    Dilema Emas dan Devisa di Negeri Konflik

    Persoalan mengenai di mana sebuah negara menyimpan harta karunnya selalu menjadi topik sensitif, terutama bagi negara-negara yang berada di zona konflik seperti Irak dan Suriah. Keamanan cadangan emas dan devisa bukan sekadar persoalan angka di neraca keuangan, melainkan menyangkut kelangsungan hidup negara di tengah ketidakpastian politik. Bagi negara yang dilanda konflik, menyimpan aset di dalam negeri kerap dipandang sebagai risiko besar bagi stabilitas jangka panjang.

    Irak menjadi salah satu contoh paling unik dalam pengelolaan keuangan negara karena keterikatannya yang kuat dengan sistem perbankan Amerika Serikat. Sejak jatuhnya rezim Saddam Hussein pada 2003, seluruh pendapatan ekspor minyak Irak tidak langsung masuk ke kas di Baghdad. Dana tersebut harus melewati rekening khusus yang dikelola oleh Federal Reserve Bank of New York sebagai bagian dari mekanisme pengawasan internasional.

    Sistem ini awalnya dirancang untuk melindungi kekayaan Irak dari klaim hukum masa lalu, namun hingga kini mekanisme tersebut tetap berjalan dengan ketat. Konsekuensinya, Amerika Serikat memiliki kendali teknis terhadap aliran likuiditas dolar yang masuk ke sistem keuangan Irak setiap bulan. Kendali ini dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan dana, termasuk pendanaan terorisme atau pengalihan dana ke negara-negara yang dikenai sanksi.

    Dalam hal cadangan emas, Irak justru mengambil langkah agresif dengan terus menambah kepemilikan emas fisik dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar emas tersebut tidak disimpan di gedung pemerintah di dalam negeri, melainkan dititipkan di pusat-pusat keuangan global seperti London dan New York. Strategi ini bertujuan menjaga likuiditas dan memastikan emas dapat digunakan dalam transaksi internasional kapan pun dibutuhkan.

    Menyimpan emas di Inggris dan Amerika Serikat memberikan rasa aman dari risiko penjarahan fisik apabila konflik domestik kembali meningkat. Selain itu, emas yang berada di pusat keuangan global lebih mudah diverifikasi, diasuransikan, dan dijadikan jaminan dalam transaksi lintas negara. Bagi Irak, langkah ini dianggap paling realistis di tengah upaya membangun stabilitas nasional pascaperang.

    Nasib berbeda dialami Suriah yang terjerumus lebih dalam ke dalam isolasi akibat perang saudara berkepanjangan. Berbeda dengan Irak yang masih terhubung dengan sistem keuangan Barat, Suriah menghadapi lapisan sanksi internasional yang sangat ketat. Kondisi ini memaksa pemerintah di Damaskus mengelola sisa cadangan devisa dan emas melalui jalur yang tertutup dan penuh risiko.

    Cadangan devisa Suriah yang sebelumnya tersebar di berbagai bank Eropa sebagian besar telah dibekukan dan tidak dapat diakses. Pembekuan tersebut merupakan instrumen tekanan politik internasional, dengan tujuan memaksa perubahan kebijakan dan kepemimpinan. Akibatnya, Suriah kehilangan akses miliaran dolar yang seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat.

    Untuk bertahan, Suriah sangat bergantung pada dukungan finansial dan ekonomi dari negara-negara sekutu seperti Rusia dan Iran. Banyak pengamat meyakini bahwa sisa devisa Suriah kini disimpan dalam bentuk tunai atau melalui bank-bank di negara sekutu, guna menghindari pelacakan dan penyitaan oleh otoritas keuangan internasional.

    Lokasi cadangan emas fisik Suriah yang diperkirakan sekitar 25 ton hingga kini tetap menjadi misteri. Sebagian besar analis percaya emas tersebut masih berada di bawah kendali Bank Sentral Suriah di Damaskus untuk mencegah penyitaan di luar negeri. Namun terdapat pula spekulasi bahwa sebagian emas telah dipindahkan ke Rusia sebagai jaminan atas dukungan militer dan logistik.

    Situasi ini mencerminkan rapuhnya kedaulatan ekonomi negara yang terputus dari jaringan keuangan global. Nilai mata uang Suriah yang terus merosot menjadikan emas sebagai benteng terakhir kepercayaan moneter. Namun sanksi seperti Caesar Act secara signifikan membatasi ruang gerak Damaskus untuk memanfaatkan aset tersebut.

    Perbandingan Irak dan Suriah menunjukkan bahwa strategi penyimpanan aset sangat ditentukan oleh posisi geopolitik pemerintah. Irak memilih berada di bawah perlindungan sistem keuangan Barat meski harus mengorbankan sebagian kedaulatan finansial. Sebaliknya, Suriah menarik diri ke orbit blok timur, relatif aman dari penyitaan langsung namun terhambat secara ekonomi.

    Bagi negara konflik, penyimpanan aset di luar negeri bukan sekadar urusan perbankan, melainkan strategi pertahanan nasional. Emas yang disimpan di Bank of England atau Federal Reserve menjadi jaminan bahwa negara tidak runtuh sepenuhnya meski pemerintahan domestik terguncang. Tanpa aset yang diakui secara internasional, rekonstruksi pascakonflik hampir mustahil dilakukan.

    Trauma penjarahan aset di masa lalu membuat banyak negara Timur Tengah memilih menyimpan kekayaan mereka di luar negeri. Para bankir sentral lebih memilih membayar biaya penyimpanan daripada mengambil risiko kehilangan total akibat kekacauan internal. Hal ini menjelaskan mengapa kepercayaan terhadap lembaga keuangan internasional sering kali lebih tinggi dibanding institusi domestik.

    Namun ketergantungan ini juga membawa risiko serius berupa tekanan politik dari negara tempat aset disimpan. Dalam situasi konflik diplomatik, aset tersebut dapat dijadikan alat tawar atau bahkan dibekukan. Dilema inilah yang dihadapi Irak: keamanan aset versus kemandirian politik.

    Repatriasi emas umumnya hanya dilakukan oleh negara yang telah mencapai stabilitas tinggi dan ingin menegaskan kedaulatan penuh. Bagi Irak dan Suriah, langkah tersebut masih jauh dari realistis mengingat kondisi keamanan dan politik yang belum pulih sepenuhnya.

    Sebagai pembanding, Indonesia mengelola cadangan devisa dan emas dengan prinsip kehati-hatian dan diversifikasi global. Pelajaran dari Timur Tengah menunjukkan pentingnya menyebar risiko geopolitik agar tidak bergantung pada satu pusat kekuasaan finansial.

    Fenomena ini menegaskan bahwa emas tetap menjadi aset safe haven paling dicari di masa krisis. Baik Irak maupun Suriah mempertahankan emas sebagai benteng terakhir melawan keruntuhan ekonomi total. Nilai emas yang universal menjadikannya tetap relevan meski sebuah negara dikucilkan secara internasional.

    Pada akhirnya, nasib cadangan emas dan devisa kedua negara akan sangat ditentukan oleh arah perdamaian kawasan. Jika stabilitas tercapai, aset yang selama ini terawasi atau tersembunyi dapat dimanfaatkan untuk rekonstruksi nasional. Jika tidak, harta tersebut akan terus terkunci di balik brankas asing.

    Kisah emas di tengah pusaran konflik ini menjadi pelajaran bahwa stabilitas politik adalah fondasi utama keamanan ekonomi. Kekayaan besar tidak akan berarti tanpa sistem hukum dan tata kelola yang kuat. Di mana pun aset disimpan, tujuan akhirnya tetap satu: memastikan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar bertahan dari krisis.

    Admin2

    Penyitaan Aset Konglomerat Al-Qaterji dan Keadilan Suriah

    Otoritas hukum Suriah baru-baru ini mengambil langkah tegas terhadap salah satu entitas bisnis terbesar di negara itu, yaitu Grup Al-Qaterji. Keputusan ini menandai babak baru dalam penegakan keadilan yang telah lama dinantikan masyarakat, khususnya terkait berbagai isu kemanusiaan yang menyelimuti operasional grup tersebut. Berdasarkan informasi yang dihimpun jaringan berita Palmyra, seluruh berkas perkara resmi telah dilimpahkan ke otoritas tertinggi.

    Proses hukum saat ini berada pada tahap krusial, di mana keputusan pengadilan diperkirakan akan diumumkan dalam waktu dekat. Masyarakat tengah menunggu hasil akhir proses hukum yang melibatkan tokoh-tokoh kuat di balik perusahaan raksasa tersebut. Banyak pihak menilai langkah ini menjadi bukti komitmen pemerintah untuk membersihkan praktik bisnis yang merugikan negara dan rakyat.

    Dalam waktu kurang dari 48 jam sejak laporan ini dirilis, pengadilan diprediksi akan mengeluarkan keputusan final mengenai penyitaan aset. Langkah ini mencakup seluruh kekayaan finansial dan perusahaan-perusahaan yang berada di bawah payung Grup Al-Qaterji, tanpa terkecuali. Tindakan ini tentu menjadi pukulan berat bagi keberlangsungan bisnis mereka, yang selama ini dikenal memiliki pengaruh luas di berbagai sektor ekonomi.

    Publik pun mempertanyakan mengapa otoritas lebih memilih penyitaan aset dibanding jalur rekonsiliasi. Awalnya, Komite Keuntungan Tidak Sah sempat membuka pintu negosiasi dengan manajemen Grup Al-Qaterji untuk mencapai kesepakatan damai. Namun, fakta-fakta baru yang ditemukan mengubah arah kebijakan komite secara drastis dan menghentikan seluruh proses tawar-menawar.

    Komite awalnya bertugas mengelola aset-aset tersebut agar operasional perusahaan tetap berjalan dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi. Namun saat melakukan audit dan manajemen aset, ditemukan dokumen-dokumen rahasia yang mengejutkan. Dokumen ini menjadi bukti kuat keterlibatan grup dalam konflik berdarah yang menimpa rakyat Suriah.

    Berdasarkan temuan tersebut, komite menghentikan negosiasi penyelesaian karena keterlibatan dalam pertumpahan darah dianggap pelanggaran moral dan hukum yang berat. Fokus penyelidikan kemudian beralih sepenuhnya pada aktivitas militer ilegal yang didanai atau dikelola grup tersebut.

    Sorotan utama tertuju pada sosok Hussam Al-Qaterji, pemimpin milisi bersenjata yang dikenal sebagai Pasukan Tugas Khusus. Milisi ini memiliki personel yang terorganisir dan beroperasi di wilayah strategis. Keberadaannya dianggap sebagai tangan kanan militer Grup Al-Qaterji untuk mengamankan kepentingan bisnis melalui kekerasan dan intimidasi.

    Data resmi menyebutkan jumlah personel milisi mencapai 1.933 orang. Angka ini diperoleh dari dokumen internal yang berhasil disita pihak berwenang, berisi data pribadi lengkap setiap anggota, termasuk nama orang tua dan tanggal bergabung.

    Selain daftar personel, ditemukan dokumen administratif rahasia mengenai struktur komando milisi. Dokumen ini merupakan perintah resmi dari komandan tertinggi, yang mengatur penunjukan pemimpin wilayah untuk Aleppo dan sekitarnya. Bukti ini menunjukkan hierarki yang jelas dan sistematis dalam pengorganisasian kekuatan bersenjata di luar struktur militer resmi negara.

    Bukti paling memberatkan adalah laporan operasional yang merinci kegiatan militer milisi. Laporan mencatat waktu, lokasi, serta penggunaan amunisi dan persenjataan setiap operasi. Catatan ini memperlihatkan skala kekerasan yang dilakukan terhadap berbagai target selama konflik berlangsung.

    Kasus ini kembali mengingatkan publik terhadap kritik tajam yang sebelumnya dilontarkan media independen. Selama ini, Grup Al-Qaterji dianggap seolah berada di atas hukum karena kekuatan finansial dan militernya. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa tidak ada satu pun yang kebal hukum ketika bukti kejahatan terkumpul.

    Keputusan komite menghentikan negosiasi disambut positif masyarakat Suriah. Langkah ini meningkatkan kepercayaan publik terhadap integritas komite dalam menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Pesan yang disampaikan jelas: nyawa dan darah rakyat bukan komoditas untuk dikompromikan dengan uang.

    Otoritas menegaskan semua keputusan berlandaskan hukum dan bukti konkret, menepis anggapan bahwa penyitaan semata-mata didorong motif politik. Penyelidikan dokumen internal perusahaan menjadi pondasi utama seluruh tindakan hukum yang dijalankan.

    Efek domino kasus ini diperkirakan akan menyentuh sektor bisnis lain yang terkait Grup Al-Qaterji. Investor dan mitra bisnis kini mengevaluasi ulang hubungan mereka guna menghindari risiko hukum di masa depan. Ketidakpastian aset yang disita menjadi perhatian para pengamat ekonomi terkait stabilitas pasar.

    Keluarga korban milisi menyambut baik proses hukum ini sebagai pengakuan atas penderitaan mereka. Harapan muncul agar kasus ini tidak hanya berhenti pada penyitaan aset, tetapi juga berlanjut ke pengadilan bagi individu yang bertanggung jawab langsung.

    Grup Al-Qaterji sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan. Namun tekanan publik dan proses hukum yang cepat membuat posisi mereka terpojok. Kehilangan kendali atas perusahaan dan dana besar menjadi akhir dominasi ekonomi yang telah berlangsung bertahun-tahun.

    Pihak berwenang mengimbau masyarakat tetap tenang dan menyerahkan proses hukum kepada mekanisme peradilan. Mereka menjamin aset yang disita akan dikelola secara transparan dan bermanfaat bagi kepentingan negara, sehingga sektor ekonomi sebelumnya tidak terganggu.

    Kasus ini diharapkan menjadi preseden hukum bagi perusahaan lain agar tidak terlibat aktivitas ilegal atau pendanaan milisi. Integritas dunia usaha di Suriah sedang diuji melalui penyelesaian kasus besar ini secara tuntas dan terbuka.

    Dunia internasional pun mulai menyoroti bagaimana Suriah menangani kasus korupsi dan kejahatan perang yang melibatkan aktor ekonomi besar. Keberhasilan penyelesaian kasus ini akan memperbaiki citra sistem hukum pasca-konflik di mata global.

    Drama hukum Grup Al-Qaterji terus berkembang menjelang putusan final. Sejarah akan mencatat apakah langkah berani ini mampu membawa perubahan nyata bagi sistem keadilan di Suriah atau hanya menjadi peristiwa sementara. Rakyat tetap menjadi hakim terakhir dalam menilai sejauh mana keadilan ditegakkan.

    Selasa, 27 Januari 2026

    Admin2

    Runtuhnya Bisnis Haram Minyak Suriah di Irak

    Sebuah cuitan keras dari penulis dan analis politik Turki, Ibrahim Karagül, kembali memantik perdebatan tajam di kawasan Timur Tengah. Dalam unggahan singkat namun sarat makna itu, Karagül menuding runtuhnya apa yang ia sebut sebagai “sistem uang berdarah” yang selama bertahun-tahun beroperasi di Suriah utara.

    Menurut Karagül, sumber utama dari sistem tersebut adalah eksploitasi minyak Suriah yang terjadi selama bertahun-tahun. Ia secara langsung menuding Masoud Barzani sebagai pihak yang menikmati keuntungan terbesar dari praktik tersebut, sebelum akhirnya kehilangan sumber kekayaan itu seiring perubahan situasi di Suriah.

    Cuitan itu menyebut bahwa minyak Suriah telah “dimakan” atau dieksploitasi selama bertahun-tahun, dan kehilangan akses terhadap sumber daya itulah yang menjadi penyebab utama kegelisahan politik Barzani saat ini. Hilangnya aliran dana itu digambarkan sebagai titik balik yang menentukan.

    Karagül juga menyoroti hubungan finansial antara Barzani dan kelompok bersenjata Kurdi seperti PKK dan YPG. Dalam narasinya, organisasi-organisasi tersebut bukan sekadar mitra ideologis, melainkan aset bernilai ratusan juta dolar.

    Hubungan tersebut, menurut Karagül, menjadikan Barzani tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab atas aktivitas terorisme. Ia menegaskan bahwa melalui PKK, Barzani secara tidak langsung terlibat dalam konflik melawan Turki dan Suriah.

    Tuduhan ini mengaitkan konflik bersenjata lintas negara dengan kepentingan ekonomi, khususnya penguasaan sumber daya energi. Karagül menggambarkan konflik tersebut bukan semata persoalan etnis atau politik, melainkan perang yang digerakkan oleh uang.

    Dalam cuitannya, ia menyatakan bahwa Suriah kini mulai bangkit kembali. Kebangkitan ini, menurutnya, beriringan dengan runtuhnya “roda teror” yang sebelumnya berputar berkat dana ilegal dan jaringan ekonomi gelap.

    Narasi tersebut menggambarkan bahwa melemahnya kelompok bersenjata di Suriah utara bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat terputusnya aliran dana yang selama ini menopang operasional mereka.

    Karagül menggunakan istilah “penipuan besar” untuk menggambarkan sistem ekonomi yang menurutnya telah lama menipu banyak pihak. Sistem itu disebut sebagai jaringan uang kotor yang bercampur dengan darah akibat konflik berkepanjangan.

    Runtuhnya sistem tersebut, menurut Karagül, bukan hanya kegagalan ekonomi, tetapi juga kekalahan moral dan politik bagi aktor-aktor yang terlibat di dalamnya.

    Ia menegaskan bahwa pihak yang paling dirugikan dari perubahan ini adalah Barzani. Kehilangan akses terhadap minyak Suriah dan jaringan bersenjata dianggap sebagai pukulan strategis yang sulit dipulihkan.

    Cuitan ini muncul di tengah dinamika baru di Suriah, ketika pemerintah Damaskus perlahan memulihkan kontrol atas wilayah dan sumber daya strategis yang sebelumnya berada di luar kendalinya.

    Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan Karagül mencerminkan sudut pandang sebagian elite Turki yang melihat konflik Suriah utara sebagai arena persaingan ekonomi dan keamanan regional.

    Isu keterlibatan aktor Kurdi lintas negara, khususnya antara Suriah dan Irak, memang telah lama menjadi sumber ketegangan antara Ankara, Damaskus, dan Erbil.

    Dengan mengaitkan langsung Barzani pada PKK/YPG, Karagül mendorong narasi bahwa garis pemisah antara aktor politik Kurdi dan kelompok militan menjadi kabur.

    Cuitan tersebut juga dapat dibaca sebagai pesan politik kepada komunitas internasional agar melihat konflik Suriah tidak hanya dari perspektif kemanusiaan, tetapi juga dari sisi ekonomi gelap yang menopangnya.

    Reaksi terhadap pernyataan ini pun beragam. Sebagian mendukung narasi Karagül sebagai pembongkaran jaringan lama, sementara lainnya menilai tuduhan itu bersifat politis dan provokatif.

    Meski hanya berupa cuitan, dampaknya meluas karena menyentuh nama besar dan isu sensitif di kawasan yang masih rapuh.

    Di tengah perubahan peta kekuatan di Suriah utara, tudingan tentang “sistem uang berdarah” menambah lapisan baru dalam perdebatan regional.

    Apakah runtuhnya sistem tersebut benar-benar menandai akhir dominasi ekonomi lama, atau sekadar perubahan pemain, masih menjadi pertanyaan terbuka.

    Namun satu hal jelas, cuitan ini menegaskan bahwa di balik konflik bersenjata, pertarungan sesungguhnya sering kali berkisar pada uang, sumber daya, dan siapa yang akhirnya keluar sebagai pemenang atau pecundang.

    Admin2

    Damaskus Hadapi Tantangan Strategis Wilayah Timur


    Pemerintah Suriah kini dihadapkan pada dua tantangan besar yang berkaitan dengan kontrol wilayah timur dan utara, khususnya di provinsi Hasakah. Pertama, adalah masalah infrastruktur vital yang rusak akibat konflik berkepanjangan dengan SDF dan elemen pro-PKK. Kedua, adalah kendali jalur perbatasan Semalka yang menjadi sumber pasokan strategis dari Kurdistan Irak ke wilayah SDF.


    Sejumlah fasilitas minyak di Hasakah dan sekitarnya dilaporkan mengalami kerusakan serius. Aktivitas militer SDF dan PKK selama beberapa tahun terakhir telah mengakibatkan penurunan kapasitas produksi, sabotase peralatan, dan minimnya perawatan. Ladang-ladang ini menjadi sumber penting bagi pemulihan ekonomi nasional pascaperang.


    Selain itu, bendungan-bendungan yang mengatur irigasi pertanian dan pasokan listrik juga mengalami kerusakan struktural. Kerusakan ini berdampak langsung terhadap masyarakat di hilir dan mengancam ketahanan pangan di wilayah tersebut.


    Jaringan jembatan yang menghubungkan pedesaan dengan kota-kota utama pun tidak luput dari kerusakan. Banyak jembatan yang hancur akibat pertempuran atau pengeboman, sehingga mobilitas dan distribusi logistik terhambat.


    Sektor transportasi udara juga mengalami kerusakan berat. Bandara-bandara di wilayah konflik tidak berfungsi optimal karena landasan pacu, terminal, dan fasilitas navigasi mengalami kerusakan. Qamishli menjadi salah satu contoh utama, di mana bandara diperkirakan memerlukan perbaikan besar jika kembali sepenuhnya ke kendali pemerintah.


    Reuters melaporkan bahwa Rusia telah memulai penarikan pasukan secara bertahap dari Bandara Qamishli. Beberapa pasukan akan dipindahkan ke Hmeimim, sementara sisanya dipulangkan ke Rusia. Penarikan ini menandai perubahan penting dalam peta kehadiran militer asing di wilayah utara Suriah.


    Kendaraan militer dan persenjataan berat Rusia terlihat dipindahkan ke Hmeimim, termasuk peralatan yang dimuat ke dalam pesawat angkut Il-76 dan helikopter Mi-8. Aktivitas ini menegaskan bahwa Qamishli tidak lagi menjadi prioritas utama bagi kehadiran militer Rusia.


    Bagi pemerintah Suriah, berkurangnya kehadiran Rusia di Qamishli membuka peluang, tetapi sekaligus menambah beban pemulihan infrastruktur dan pengawasan wilayah. Semua tanggung jawab rekonstruksi kini berada sepenuhnya di tangan Damaskus.


    Pemulihan fasilitas minyak, bendungan, jembatan, dan bandara menjadi ujian kemampuan pemerintah Suriah dalam memulihkan kedaulatan dan fungsi negara secara utuh. Tanpa perbaikan cepat, ketergantungan pada impor energi dan pangan akan berlanjut.


    Di sisi lain, jalur perbatasan Semalka menjadi titik strategis yang menimbulkan kontroversi. Banyak pengamat menilai, jika Damaskus menutupnya lebih awal, aliran logistik SDF dari Kurdistan Irak bisa terputus dan memperlemah kelompok bersenjata secara signifikan.


    Namun, keputusan untuk menutup Semalka tidak sesederhana itu. Jalur ini melibatkan kepentingan banyak pihak, termasuk Amerika Serikat, Irak, dan otoritas Kurdistan. Langkah sepihak dapat memicu konflik regional dan tekanan internasional.


    Menutup Semalka terlalu cepat juga berisiko menyatukan suku Arab dan Kurdi di bawah SDF, memperkuat legitimasi kelompok tersebut, dan menimbulkan resistensi politik. Damaskus tampaknya memilih strategi menunggu momen yang tepat.


    Kebijakan saat ini mencerminkan pendekatan bertahap. Pemerintah berusaha melemahkan posisi SDF melalui politik lokal, ekonomi, dan loyalitas suku, alih-alih dengan tekanan militer langsung di perbatasan.


    Dengan cara ini, kota-kota besar seperti Hasakah dan Qamishli tetap berada di bawah pengawasan Damaskus secara politik, meski secara fisik masih dikuasai SDF. Strategi ini memungkinkan negara menghindari perang besar di kawasan padat sipil.


    Analisis menunjukkan, Damaskus menunggu agar legitimasi SDF di pedesaan dan wilayah perbatasan melemah secara internal sebelum mengambil tindakan keras. Dengan kata lain, penutupan Semalka akan dilakukan ketika situasi mendukung, bukan berdasarkan keinginan cepat secara militer.


    Skenario ini juga mengurangi risiko konfrontasi langsung dengan AS, yang selama ini menggunakan jalur perbatasan Semalka untuk suplai kepada SDF. Menutup jalur ini terlalu cepat dapat memicu krisis diplomatik serius.


    Dari perspektif strategis, pendekatan Damaskus adalah menyeimbangkan antara pemulihan infrastruktur, kontrol wilayah, dan politik regional. Semua langkah harus memperhitungkan dampak jangka panjang terhadap stabilitas negara.


    Kerusakan infrastruktur dan kontrol perbatasan yang masih lemah menandai fase kritis bagi Suriah. Kesuksesan pemerintah dalam memulihkan ladang minyak, bendungan, jembatan, bandara, dan jalur suplai akan menjadi indikator kemampuan negara mengonsolidasikan wilayahnya.


    Sementara itu, keputusan menunggu waktu yang tepat untuk menutup Semalka menunjukkan bahwa Damaskus memahami kompleksitas geopolitik kawasan. Langkah yang terburu-buru dapat menjadi bumerang politik dan militer.


    Akhirnya, pemerintah Suriah berada di persimpangan strategis. Pemulihan wilayah yang rusak dan pengendalian jalur perbatasan harus dilakukan seimbang agar kekuatan politik dan militer negara tetap terjaga, sambil menghindari eskalasi yang dapat membuka konflik baru.


    Baca selanjutnya

    Jumat, 23 Januari 2026

    Admin2

    Anak Idlib di Garis Terdepan

    Gelombang kabar duka kembali datang dari medan tempur Suriah. Nama-nama prajurit yang gugur satu per satu diumumkan, dan pola yang sama terus berulang: sebagian besar berasal dari Idlib, provinsi yang sejak awal perang menjadi ladang luka paling dalam bagi negeri itu.

    Idlib bukan sekadar wilayah konflik, melainkan gudang manusia yang ditempa perang sejak bertahun-tahun lalu. Dari kota dan desa yang hancur, ribuan pemuda direkrut ke dalam barisan militer Suriah, membawa pengalaman hidup sebagai pengungsi yang tak pernah benar-benar pulang.

    Banyak dari mereka tumbuh dewasa di tenda-tenda darurat, di sekolah seadanya, atau di pengungsian lintas provinsi. Ketika negara memanggil, mereka maju tanpa banyak bertanya, meski kehidupan pribadi mereka belum pernah pulih sepenuhnya.

    Itulah sebabnya korban militer dari Idlib begitu besar. Mereka ditempatkan di garis depan bukan karena asal-usul semata, tetapi karena daya tahan mental dan fisik yang ditempa oleh penderitaan panjang. Mereka sudah terbiasa hidup di bawah ancaman, sehingga dianggap siap menghadapi medan paling berbahaya.

    Namun di balik seragam dan senjata, mereka tetap manusia dengan kisah yang tertinggal di belakang. Banyak prajurit Suriah hari ini adalah eks pengungsi yang rumahnya hancur, sebagian baru mulai membangun kembali usai Assad lengser, dan sebagian lain bahkan belum sempat meletakkan satu batu pun di atas puing-puing lama.

    Ada yang meninggalkan proyek rumah setengah jadi, dinding tanpa atap, atau pintu yang belum pernah dipasang. Mereka berangkat ke medan perang dengan keyakinan bahwa tugas negara harus didahulukan, Presiden Ahmed Al Sharaa memanggil untuk tegaskan integritas negara.

    Ironisnya, sebagian dari prajurit ini justru terlibat dalam proses oembebasan dan pengembalian rumah-rumah di Raqqa dan Deir Ezzour. Rumah-rumah yang sebelumnya dikuasai oleh SDF diserahkan kembali kepada pemilik sipilnya, sebagai bagian dari rekonsiliasi dan pemulihan kehidupan warga.

    Mereka menjalankan perintah itu dengan disiplin, meski sadar bahwa rumah orang lain dipulihkan sementara rumah mereka sendiri masih berupa kenangan. Belum ada kompensasi langsung, tidak ada bantuan khusus, tapi itu masih lebih baik dari mereka yang belum beruntung ikut rekrutmen.

    Saat kembali ke kampung halaman di Idlib atau pinggiran Aleppo usai lengsernya Assad, mereka tidak disambut oleh program rekonstruksi besar. Banyak yang kembali ke reruntuhan, ke tanah kosong yang dulu pernah menjadi rumah, atau ke bangunan setengah roboh yang belum layak dihuni.

    Negara masih sibuk memulihkan wilayah strategis, sementara prajurit-prajurit ini memikul beban ganda: bertahan hidup sebagai tentara dan sebagai warga sipil yang kehilangan segalanya. Tidak sedikit yang kembali dari medan tugas hanya untuk kembali mengungsi.

    Namun di situlah letak heroisme mereka. Mereka tidak berperang demi rumah yang utuh atau kehidupan yang mapan, melainkan demi gagasan bahwa Suriah harus tetap berdiri sebagai negara, meski berdiri di atas puing-puing.

    Bagi banyak tentara asal Idlib, kematian di medan tempur bukan sekadar risiko, melainkan kemungkinan yang selalu diterima sejak hari pertama mengenakan seragam. Mereka tahu peluang kembali hidup-hidup tidak selalu sebanding dengan pengorbanan yang diberikan.

    Angka korban dari Idlib mencerminkan realitas sosial militer Suriah hari ini. Tentara bukan hanya pasukan profesional, tetapi cermin penderitaan rakyat yang diangkat menjadi benteng terakhir negara.

    Di medan tempur, mereka tidak hanya melawan musuh bersenjata, tetapi juga melawan ingatan tentang rumah yang hancur dan keluarga yang tercerai-berai. Setiap langkah maju adalah perlawanan terhadap nasib yang berusaha menundukkan mereka.

    Dalam sunyi malam pos terdepan, banyak dari mereka memikirkan tembok rumah yang belum selesai, atau ladang yang belum sempat ditanami kembali. Tetapi ketika fajar datang, mereka tetap berdiri, senjata di tangan, tanpa mengeluh.

    Pengorbanan itu jarang terlihat dalam laporan singkat atau statistik korban. Namun di balik setiap nama yang gugur, ada kisah panjang tentang pengungsian, kehilangan, dan tekad untuk tidak menyerah pada kehancuran.

    Idlib, yang selama ini dikenal sebagai simbol perlawanan dan kekacauan, justru menjadi sumber darah bagi militer Suriah. Dari tanah yang paling menderita, lahir prajurit-prajurit yang memikul beban terberat.

    Mereka bukan tentara yang berangkat dari barak nyaman, melainkan dari tenda, reruntuhan, dan rumah tanpa atap. Itu yang membuat angka korban dari Idlib begitu tinggi, sekaligus menjelaskan mengapa ketahanan mereka begitu luar biasa.

    Dalam sejarah perang Suriah, generasi tentara ini akan dikenang bukan karena kemenangan semata, tetapi karena kesediaan mereka berkorban saat mereka sendiri nyaris tak memiliki apa-apa lagi.

    Di tengah semua ketimpangan dan luka yang belum sembuh, mereka tetap maju. Dan mungkin di situlah makna heroisme paling telanjang: bertempur demi negeri, ketika negeri itu belum sempat memulihkanmu.

    Rabu, 14 Januari 2026

    newsonline

    Kuwait Bekerja Sunyi Bantu Yaman, Bangun Kota Baru untuk Pengungsi


    Di tengah sorotan media internasional yang lebih banyak tertuju pada konflik dan ketegangan di Yaman, peran kemanusiaan Kuwait justru berlangsung dalam senyap. Tanpa gembar-gembor pemberitaan, negara Teluk tersebut secara konsisten membangun kota-kota hunian baru bagi para pengungsi dan warga Yaman yang terdampak perang.

    Bantuan Kuwait tidak hanya hadir dalam bentuk dana darurat, tetapi diwujudkan melalui proyek-proyek nyata di lapangan. Sejumlah kawasan permukiman dibangun untuk menampung keluarga yang kehilangan rumah akibat konflik berkepanjangan.

    Kota-kota hunian itu dirancang sebagai lingkungan layak huni, lengkap dengan infrastruktur dasar. Bagi ribuan warga Yaman, kehadiran permukiman ini menjadi awal baru setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian.

    Selain perumahan, Kuwait juga membangun rumah sakit dan fasilitas kesehatan di berbagai wilayah Yaman. Kehadiran fasilitas tersebut membantu meringankan beban sistem kesehatan lokal yang lumpuh akibat perang dan kekurangan sumber daya.

    Di sektor pendidikan, Kuwait mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak Yaman yang terdampak konflik. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah hilangnya satu generasi akibat terputusnya akses pendidikan selama perang.

    Tak hanya itu, masjid dan fasilitas sosial lainnya turut dibangun sebagai pusat kegiatan masyarakat. Infrastruktur tersebut berfungsi memperkuat kembali ikatan sosial yang tergerus oleh konflik dan pengungsian.

    Yang membedakan bantuan Kuwait adalah pendekatannya yang minim publikasi. Banyak proyek kemanusiaan berjalan tanpa seremoni besar atau kampanye media internasional, berbeda dengan praktik bantuan negara lain.

    Pendekatan senyap ini justru memperkuat citra Kuwait di mata masyarakat Yaman. Bantuan dinilai tulus karena tidak disertai tuntutan politik maupun imbal balik tertentu.

    Warga Yaman di berbagai wilayah mengakui bahwa bantuan Kuwait telah hadir sejak sebelum perang, terus berlanjut selama konflik, dan tetap berjalan hingga saat ini. Konsistensi ini membedakan Kuwait dari aktor-aktor lain yang bersifat situasional.

    Dalam konteks geopolitik yang kompleks, Kuwait memilih jalur kemanusiaan murni. Negara ini menjaga jarak dari eksploitasi politik atas penderitaan rakyat Yaman.

    Para pengamat menilai strategi Kuwait mencerminkan diplomasi kemanusiaan jangka panjang. Dengan membangun infrastruktur sipil, bantuan yang diberikan bersifat berkelanjutan dan berdampak langsung.

    Pembangunan kota-kota hunian juga membantu mengurangi tekanan pengungsian internal. Banyak keluarga yang sebelumnya tinggal di kamp darurat kini memiliki tempat tinggal permanen.

    Fasilitas kesehatan yang dibangun Kuwait turut meningkatkan akses layanan medis di daerah terpencil. Rumah sakit dan klinik tersebut menjadi rujukan utama bagi warga setempat.

    Di bidang pendidikan, sekolah-sekolah bantuan Kuwait membuka kembali harapan bagi anak-anak Yaman untuk melanjutkan masa depan mereka. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk stabilitas Yaman.

    Meski jarang diliput media, jejak bantuan Kuwait terlihat nyata di lapangan. Bangunan, layanan publik, dan komunitas yang hidup kembali menjadi bukti konkret komitmen tersebut.

    Bagi masyarakat Yaman, bantuan semacam ini memiliki makna lebih dari sekadar proyek fisik. Ia mencerminkan solidaritas Arab dan nilai kemanusiaan yang melampaui kepentingan politik.

    Ucapan terima kasih dan doa kerap disampaikan warga Yaman kepada Kuwait. Banyak yang menilai peran Kuwait sebagai sahabat yang hadir tanpa syarat di masa sulit.

    Keberadaan kota-kota baru hasil bantuan Kuwait juga menjadi simbol ketahanan masyarakat Yaman. Dari reruntuhan perang, kehidupan perlahan dibangun kembali.

    Dalam dunia yang kerap mengaitkan bantuan dengan pencitraan, pendekatan Kuwait tampil berbeda. Negara ini memilih bekerja dalam diam dan membiarkan hasilnya berbicara.

    Pendekatan tersebut memperkuat kepercayaan masyarakat penerima bantuan. Hubungan yang terbangun bukan sekadar donor dan penerima, melainkan kemitraan kemanusiaan.

    Bagi Yaman, peran Kuwait menjadi pengingat bahwa di tengah konflik berkepanjangan, masih ada negara yang memilih memberi tanpa suara. Sebuah kontribusi sunyi yang dampaknya terasa nyata dan akan dikenang dalam jangka panjang.

    Sabtu, 20 September 2025

    newsonline

    Suriah Gelar Pemilu Parlemen Transisi 2025

    Suriah bersiap menggelar pemilu parlemen pertama pasca kejatuhan Bashar al‑Assad, dijadwalkan berlangsung antara 15 hingga 20 September 2025 (jika tak diundur). Pemerintahan transisi yang dipimpin Presiden sementara Ahmed al‑Sharaa dan Perdana Menteri Muhammad al‑Bashir menegaskan pemilu ini menjadi tonggak penting untuk membangun kembali legitimasi politik negara.

    Pemilu kali ini berbeda dari masa lalu. Sebagian kursi parlemen akan dipilih secara tidak langsung melalui “electoral colleges” di tiap provinsi, sementara sepertiga kursi lainnya ditunjuk langsung oleh Presiden transisi. Langkah ini diambil karena kondisi keamanan dan administrasi kependudukan yang belum sepenuhnya pulih.

    Jumlah kursi parlemen ditetapkan sebanyak 210. Dari jumlah itu, 70 kursi ditunjuk oleh Presiden transisi, sedangkan 140 kursi dipilih melalui mekanisme electoral colleges yang terdiri dari badan pemilih lokal di tiap provinsi. Sistem ini bertujuan menjaga keseimbangan antara representasi publik dan kendali administratif pemerintah transisi.

    Syarat bagi warga untuk memilih tetap mengikuti standar minimal usia 18 tahun. Artinya, mayoritas warga dewasa Suriah masih memiliki hak suara, meski pemilu dilakukan sebagian tidak langsung. Sedangkan calon anggota parlemen harus berusia minimal 25 tahun, memenuhi standar integritas, dan tidak terlibat kejahatan berat atau kelompok terlarang.

    Wilayah yang dikendalikan pemerintahan transisi akan menjadi pusat pemilu. Sementara itu, provinsi yang masih berada di bawah kendali SDF atau AANES di timur laut, termasuk Hasakah dan Raqqa, serta provinsi Suwayda, tidak ikut serta karena faktor keamanan dan kontrol administratif. Pemerintah transisi menegaskan hanya wilayah yang bisa membentuk electoral colleges yang akan ikut.

    Di sisi lain, wilayah timur laut Suriah yang dikelola SDF menjalankan sistem legislatif sendiri melalui Dewan Legislatif Demokratik. Pemilu di sana bersifat lokal dan berbasis komune, mirip dengan sistem electoral colleges tapi diatur internal AANES. Damaskus belum mengakui hasil legislatif mereka, sehingga integrasi penuh masih tergantung negosiasi politik.

    Pemerintah transisi beralasan bahwa pemilihan tidak langsung menjadi solusi pragmatis untuk kondisi darurat. Data kependudukan yang belum lengkap, ribuan warga mengungsi, dan keamanan yang tidak merata membuat pemilu langsung menyeluruh sulit dilakukan. Dengan electoral colleges, pemerintah bisa tetap membentuk parlemen sementara.

    Partai politik yang bisa ikut harus memenuhi syarat tertentu. Mereka harus resmi terdaftar dan diakui oleh pemerintah transisi. Calon anggota parlemen dari partai tersebut harus memiliki reputasi baik, tidak pernah terlibat kejahatan berat, dan tidak aktif di militer atau badan keamanan. Sistem ini juga membatasi eks-kroni rezim lama yang pernah menjabat setelah 2011, kecuali telah “mendefeksikan diri”.

    Pemerintah juga menetapkan kuota tertentu untuk representasi perempuan dan kelompok minoritas. Tujuannya agar parlemen transisi bisa mencerminkan keberagaman masyarakat Suriah, meski keterwakilan ini masih terbatas. Upaya ini menjadi salah satu indikator reformasi politik dalam transisi negara.

    Wilayah SDF dan Suwayda dipastikan tidak ikut pemilu. AANES menegaskan wilayah mereka tetap menjalankan mekanisme legislatif internal, sementara Suwayda menghadapi isu sektarian yang membuat pemilu tidak memungkinkan. Pemerintah transisi pun menyatakan bahwa integrasi wilayah-wilayah ini akan dipertimbangkan setelah stabilitas dan kesepakatan politik tercapai.

    Pemilu ini juga menjadi ujian pertama bagi pemerintahan transisi dalam menegakkan hukum dan tata kelola administrasi. Subkomite lokal yang membentuk electoral colleges harus memastikan transparansi dan akuntabilitas agar pemilu mendapat legitimasi publik dan internasional.

    Meski sistem tidak langsung menimbulkan kritik, pemerintah berargumen bahwa ini adalah solusi realistis. Dengan membatasi cakupan langsung pemilih, mereka berharap mengurangi risiko konflik dan mempermudah logistik penyelenggaraan pemilu di tengah kondisi pasca-konflik.

    Rakyat Suriah menanggapi dengan beragam reaksi. Sebagian berharap pemilu ini menjadi awal stabilitas baru, sementara sebagian lain skeptis terhadap keterwakilan yang terbatas dan kemungkinan manipulasi politik. Diskusi publik pun muncul mengenai keabsahan pemilu tidak langsung dan dampaknya bagi demokratisasi Suriah.

    Calon anggota parlemen dituntut memenuhi standar integritas tinggi. Selain usia minimal 25 tahun, mereka harus memiliki rekam jejak bersih dan tidak terlibat dalam aktivitas yang bisa menimbulkan konflik kepentingan. Pemerintah menekankan pentingnya menjaga moral dan legitimasi legislatif transisi.

    Mekanisme electoral colleges juga menuntut warga untuk berpartisipasi aktif melalui perantara. Warga memilih perwakilan lokal yang kemudian memilih anggota parlemen. Sistem ini bertujuan memastikan keterlibatan publik tetap ada meski tidak langsung, sambil menjaga keamanan dan administrasi pemilu.

    Sejumlah pengamat menilai pemilu ini sebagai kompromi antara idealisme demokrasi dan realitas pasca-konflik. Pemilihan langsung penuh sulit diterapkan karena infrastruktur administrasi yang rusak dan fragmentasi wilayah. Electoral colleges dianggap solusi sementara yang pragmatis.

    Pemerintah transisi menekankan bahwa kursi yang ditunjuk langsung presiden hanya sebagian kecil. Dua pertiga kursi tetap dipilih melalui electoral colleges, sehingga ada keseimbangan antara kontrol pemerintah dan partisipasi rakyat.

    Pemilu ini menjadi percobaan penting bagi pemerintahan transisi. Hasilnya akan menentukan legitimasi parlemen sementara dan arah kebijakan politik serta ekonomi selama periode transisi lima tahun yang telah ditetapkan Ahmed al-Sharaa.

    Di luar itu, pemilu juga menjadi simbol perubahan struktur politik Suriah. Dari dominasi rezim Assad dan kroninya, kini Suriah mencoba membangun representasi yang lebih luas dengan melibatkan partai baru dan aktor lokal yang bertahan di masa konflik.

    Meski belum sempurna, langkah ini menandai upaya pemerintah transisi untuk menghadirkan legislatif yang mampu mengawal stabilitas dan rekonstruksi. Integrasi wilayah yang belum ikut pemilu tetap menjadi pekerjaan rumah penting bagi masa depan politik Suriah.

    Pemilu parlemen Suriah September 2025 menunjukkan tantangan besar dalam transisi politik. Dari mekanisme electoral colleges, syarat calon anggota parlemen, hingga keterbatasan wilayah yang ikut serta, semua menjadi refleksi kompleksitas membangun demokrasi pasca-konflik di tengah kerentanan negara.

    Rabu, 10 September 2025

    Admin2

    Politik Suriah; Pernyataan Barzani dan Tekanan Baru untuk Damaskus


    Pernyataan Massoud Barzani, pemimpin Wilayah Kurdistan Irak, kembali memantik perdebatan panas mengenai kedaulatan Suriah. Dalam sebuah video yang beredar, Barzani disebut menyinggung kemungkinan pengerahan pasukan Peshmerga ke wilayah Qamishli untuk melindungi apa yang ia sebut sebagai “Kurdistan Barat”. Meski masih sebatas ucapan, pernyataan ini dianggap sebagai intervensi politik yang berpotensi memicu eskalasi di kawasan.

    Bagi Damaskus, di bawah pemerintahan Presiden Ahmed Al Sharaa, langkah Barzani tak bisa dianggap sepele. Meski tidak memberi efek langsung, ucapan itu memberikan dorongan moral bagi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi Kurdi untuk semakin percaya diri menghadapi pemerintah pusat. Tekanan psikologis ini dapat memaksa Damaskus melakukan konsesi lebih jauh dari yang mereka inginkan.

    Sejumlah analis menilai, pernyataan Barzani tidak hanya berdampak pada hubungan Kurdi-Suriah, tetapi juga pada posisi kelompok Arab di wilayah timur laut Suriah. Suku-suku Arab di Raqqa, Deir ez-Zor, dan Hasakah merasa ancaman itu diarahkan langsung kepada mereka. Kekhawatiran semakin besar karena sejarah panjang ketegangan antara komunitas Arab dan Kurdi di kawasan tersebut. Apalagi SDF Kurdi telah menyita hak ulayat banyak suku-suku Arab di Raqqa, Deir Ezzour dan Hasakah.

    Damaskus kini berada di persimpangan yang sulit. Di satu sisi, mereka berhadapan dengan tuntutan politik SDF yang kian vokal. Di sisi lain, mereka masih harus menghadapi masalah keamanan lain, termasuk serangan Israel di Damaskus terkait Suwaida yang sempat memaksa pasukan Suriah ditarik mundur. Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya posisi Damaskus dalam mengendalikan seluruh wilayahnya.

    Penarikan pasukan dari Suwaida memberi ruang bagi milisi Al Hajri untuk berkeliaran tanpa kendali. Milisi ini sempat memancing di air keruh dengan melakukan pembantaian terhadap komunitas Arab Badui. Hingga kini, ribuan warga Badui masih terkatung-katung di kamp pengungsian, belum mampu kembali ke rumah mereka yang porak-poranda akibat kekerasan tersebut. Milisi Al Hajri yang terlibat pembantaian juga tak dikenakan sanksi pidana.

    Kondisi pengungsian yang berkepanjangan menambah beban sosial dan politik bagi pemerintah baru di Damaskus. Kehilangan legitimasi di mata komunitas Arab Badui bisa menambah daftar panjang ketidakpuasan terhadap otoritas pusat. Situasi ini, secara tidak langsung, menjadi keuntungan politik bagi SDF yang semakin percaya diri dalam menekan Damaskus.

    Pernyataan Barzani, menurut analis Shuresh Darwish, sebenarnya lebih ditujukan untuk memberi sinyal bahwa intervensi Kurdi dari Irak hanya akan dilakukan jika komunitas Kurdi di Rojava menghadapi ancaman serius. Namun, interpretasi yang berkembang di Suriah justru melihatnya sebagai ancaman terhadap eksistensi suku-suku Arab, yang selama ini termarjinalkan oleh SDF dengan dukungan AS dkk.

    Sheikh Modar Hammad al-Asaad, ketua Dewan Tertinggi Suku dan Klan Suriah, dengan tegas mengutuk pernyataan itu. Ia menyebut pernyataan yang dikaitkan dengan Barzani hanyalah propaganda untuk memecah belah rakyat Suriah. Baginya, isu pengerahan pasukan Peshmerga hanyalah manuver politik tanpa dasar yang nyata. Kurdistan di Irak saat ini merupakan daerah otonomi dengan income perkapita tertinggi bahkan lebih tinggi dari angka nasional Irak.

    Wilayah SDF Kurdi juga lebih tinggi income perkapitanya dari wilayah Suriah secara keseluruhan karena mereka menguasai 70 persen ladang minyak Suriah.

    Meski demikian, persepsi publik tetap menjadi faktor penting. Di tengah kondisi pasca-konflik yang rapuh, sekadar isu bisa menjadi bahan bakar bagi konflik baru. Inilah yang membuat Damaskus harus berhati-hati merespons setiap pernyataan dari aktor regional, termasuk dari Erbil.

    Implikasi lain dari pernyataan Barzani adalah meningkatnya campur tangan asing di wilayah Suriah. Keberadaan pasukan Amerika Serikat di timur laut, kebijakan anti Turkiye SDF, serta manuver politik dari Kurdistan Irak, membuat kedaulatan Suriah semakin tergerus. Situasi ini memperumit jalan Damaskus menuju rekonsiliasi nasional.

    Sementara itu, SDF bisa memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi tawar mereka. Dukungan moral dari tokoh besar seperti Barzani memberi legitimasi simbolis bagi perjuangan mereka di mata komunitas Kurdi internasional. Meski tidak disertai bantuan militer langsung, efek politiknya cukup terasa.

    Bagi Israel, ketegangan baru di Suriah timur laut bisa menjadi keuntungan tersendiri, khususnya dalam proyek neo kolonialime Greater Israel. Kemaren Israel membom barak militer Suriah di Latakia, akademi militer di Homs dan pangkaan udara yang sesang dibangun Turkiye di Palmyra sebeluk melancarkan serangan udara ke kantor perwakilan Palestina di Doha, Qatar.

    Ketika Damaskus sibuk menghadapi desakan SDF dan kegaduhan politik akibat ucapan Barzani, perhatian mereka terhadap ancaman serangan Israel bisa berkurang. Hal ini membuka celah keamanan baru yang dapat dimanfaatkan oleh Tel Aviv.

    Turki juga tak akan tinggal diam. Ancaman penguatan SDF otomatis membuat Ankara semakin waspada. Pengerahan pasukan Peshmerga Irak ke Qamishli, jika benar terjadi, akan memicu reaksi keras dari Turki yang selama ini menganggap SDF berafiliasi dengan PKK.

    Dengan demikian, pernyataan Barzani bisa menjadi pemicu rantai reaksi domino di kawasan. Dari Damaskus hingga Ankara, dari suku Arab hingga komunitas Kurdi, semua merasa berkepentingan atas isu ini. Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan pasca perang berkepanjangan.

    Bagi warga sipil, terutama komunitas Badui yang masih terjebak di pengungsian, konflik politik ini hanya menambah penderitaan. Mereka tetap menunggu kejelasan kapan bisa kembali ke rumah, sementara Milisi Al Hajri dibiarkan kampanye program separatismenya untuk mendukung neokolonialisme Israel Raya.

    Sementara itu, pemerintahan baru di Damaskus dituntut untuk menunjukkan kepemimpinan yang tegas. Jika tidak mampu mengendalikan isu ini, mereka berisiko kehilangan legitimasi di mata rakyat sekaligus memperlemah posisi dalam perundingan politik, sesuatu yang diinginkan oleh milisi Druze Al Hajri, SDF Kuedi dan sisa simpatisan Bashar Al Assad yang sudah lengser.

    Diplomasi dengan SDF dan suku-suku Arab menjadi jalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan adanya tekanan eksternal dari pernyataan Barzani, diplomasi ini menjadi semakin rumit. Damaskus harus menimbang langkah dengan hati-hati agar tidak kehilangan kendali sepenuhnya.

    Kawasan timur laut Suriah kini kembali menjadi titik rawan. Ancaman konflik etnis, intervensi asing, dan krisis kemanusiaan berpadu dalam satu ruang yang sama. Hal ini menegaskan bahwa proses rekonsiliasi pasca-perang Suriah masih jauh dari kata selesai.

    Kesimpulannya, pernyataan Barzani memang tidak langsung mengubah peta kekuatan di Suriah. Namun, dampak politik dan moralnya tidak bisa dipandang remeh. Ia menjadi faktor baru yang memperumit posisi Damaskus, memperkuat tekanan SDF, sekaligus membuka celah intervensi asing yang semakin dalam.

    Jika tidak segera dikelola dengan strategi yang matang, ucapan itu bisa menjadi percikan kecil yang menyulut konflik besar di masa depan. Damaskus kini berada di bawah tekanan ganda: menjaga kedaulatan negara sembari menenangkan keresahan rakyatnya yang terus bertambah.

    Jumat, 05 September 2025

    Admin2

    Suriah Luncurkan Dana Pembangunan Nasional

    Presiden Suriah, Ahmad Al-Syar’, pada Kamis 4 September mengumumkan peluncuran Dana Pembangunan Suriah yang ditujukan untuk mendukung proses rekonstruksi pascaperang. Dana ini diharapkan mampu menghimpun sumbangan dari dalam maupun luar negeri dengan fokus warga Suriah di perantauan demi membangun kembali infrastruktur serta proyek-proyek vital yang menopang kehidupan masyarakat sehari-hari.

    Dalam pidatonya pada acara peresmian, Presiden Al-Syar’ menegaskan bahwa Suriah kini memasuki babak baru yang penuh harapan. Ia menyebut tahap ini sebagai fase pembangunan dan kebangkitan, di mana rakyat Suriah akan menuliskan sejarah baru dengan tangan mereka sendiri. “Hari ini kita berdiri di ambang era baru, era pembangunan dan rekonstruksi. Kita menulis sejarah Suriah dengan uang, tenaga, dan tekad kita sendiri,” ucapnya.

    Al-Syar’ juga menekankan bahwa tujuan utama dana ini bukan hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi rakyat. Ia mengajak seluruh warga Suriah, baik yang berada di dalam negeri maupun diaspora, untuk ikut serta menyumbangkan sebagian harta mereka. Menurutnya, partisipasi rakyat adalah kunci untuk menjadikan Suriah kembali hijau dan makmur.

    “Dengan Dana Pembangunan Suriah, kami mengajak Anda semua untuk berkorban dan menyisihkan rezeki. Kita akan bangun kembali apa yang dihancurkan oleh rezim lama, dan kita akan hidupkan tanah yang mereka bakar agar kembali subur,” tegasnya dalam sambutan.

    Pemerintah Suriah berkomitmen bahwa pengelolaan dana ini akan dilakukan secara transparan. Presiden menyatakan setiap pemasukan dan pengeluaran akan diumumkan secara terbuka. Laporan penggunaan dana akan disampaikan secara berkala kepada publik, guna menjaga kepercayaan masyarakat dan para penyumbang.

    Menurut laporan kantor berita Suriah, SANA, hingga saat ini jumlah sumbangan yang berhasil dihimpun mencapai lebih dari 30 juta dolar Amerika. Angka tersebut dinilai sebagai awal yang menjanjikan untuk mendorong percepatan program pembangunan.

    Dana Pembangunan Suriah rencananya akan digunakan dengan fokus membangun pemukiman layak untuk pengungsi di perkotaan dan menutup kamp-kamp pengungsian yang tidak layak serta untuk memperbaiki jalan raya, jembatan, jaringan listrik, hingga sistem penyediaan air bersih. Infrastruktur dasar tersebut menjadi prioritas agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal setelah bertahun-tahun dilanda krisis.

    Selain infrastruktur, dana ini juga akan difokuskan pada sektor kesehatan dan pendidikan. Banyak rumah sakit dan sekolah yang hancur akibat konflik akan direhabilitasi. Pemerintah berharap dengan demikian, kualitas hidup rakyat bisa meningkat secara bertahap.

    Di sektor ekonomi, dana tersebut akan dialokasikan untuk mendukung proyek-proyek produktif seperti pembangunan kawasan industri kecil dan pemberdayaan usaha mikro. Langkah ini diyakini mampu menciptakan lapangan kerja dan mengurangi angka pengangguran yang meningkat selama perang.

    Para pengamat menilai inisiatif ini sebagai langkah penting untuk mengembalikan stabilitas Suriah. Kehadiran Dana Pembangunan memberikan harapan baru, terutama bagi generasi muda yang mendambakan kehidupan lebih baik di tanah kelahiran mereka.

    Sementara itu, komunitas diaspora Suriah di berbagai negara dilaporkan menyambut baik langkah ini. Banyak dari mereka yang telah mengungkapkan niat untuk ikut serta memberikan kontribusi finansial. Mereka berharap dengan sumbangan tersebut, Suriah bisa bangkit lebih cepat dari keterpurukan.

    Meski demikian, tantangan yang dihadapi masih besar. Pengelolaan dana secara transparan harus benar-benar dijalankan agar tidak menimbulkan kecurigaan maupun penyalahgunaan. Kepercayaan publik menjadi faktor utama dalam menjaga keberlangsungan program ini.

    Presiden Al-Syar’ menegaskan bahwa Suriah akan menghindari praktik lama yang sarat dengan korupsi. Ia berjanji akan mengawasi langsung mekanisme penggunaan dana agar tepat sasaran. “Kami tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu. Setiap sen yang terkumpul akan digunakan untuk rakyat,” katanya.

    Sebagai wujud komitmen, pemerintah Suriah akan membentuk dewan pengawas independen yang terdiri dari ekonom, teknokrat, dan perwakilan masyarakat sipil. Dewan ini bertugas memantau, mengevaluasi, dan melaporkan jalannya program pembangunan.

    Sejumlah negara sahabat Suriah juga disebutkan telah menyatakan minat untuk menyalurkan bantuan melalui Dana Pembangunan. Dukungan internasional ini diharapkan bisa mempercepat proses pemulihan nasional.

    Meskipun kondisi ekonomi masih tertekan akibat dampak konflik berkepanjangan, inisiatif ini menjadi simbol kebangkitan moral rakyat Suriah. Banyak warga menilai dana ini sebagai kesempatan emas untuk memperbaiki kehidupan bersama.

    Media lokal melaporkan bahwa dalam beberapa hari pertama sejak peluncuran, animo masyarakat cukup tinggi. Banyak pengusaha, tokoh masyarakat, hingga warga biasa turut memberikan sumbangan, meski dalam jumlah kecil.

    Atmosfer optimisme mulai terasa di berbagai kota. Poster dan spanduk bertuliskan ajakan untuk mendukung Dana Pembangunan Suriah kini menghiasi jalanan Damaskus dan Aleppo. Semangat kolektif ini menjadi pertanda awal kebangkitan nasional.

    Dengan fondasi awal yang kuat, Suriah berharap Dana Pembangunan dapat menjadi motor penggerak rekonstruksi jangka panjang. Meski jalan masih panjang dan penuh tantangan, langkah ini dinilai sebagai titik balik menuju masa depan yang lebih cerah.

    Peluncuran Dana Pembangunan Suriah menandai fase baru perjalanan bangsa itu setelah melalui masa kelam. Kini harapan muncul bahwa dengan tekad bersama, rakyat Suriah dapat kembali menata kehidupan mereka dan membangun negeri yang lebih adil serta sejahtera.


    Admin2

    Persaingan Drone Dua Pemerintahan Sudan Makin Ketat


    Persaingan industri drone di Sudan semakin intensif seiring konflik internal yang melibatkan SAF dan RSF. Dalam konteks ini, kedua pemerintahan—versi Khartoum dan Nyala—berupaya menegaskan dominasi teknologi udara untuk mendukung operasi militer mereka. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa kemampuan drone menjadi indikator penting dalam persaingan strategis kedua kubu.

    Pemerintahan versi Khartoum telah menekankan pengembangan armada UAV modern melalui proyek-proyek lokal. Salah satunya adalah Safaroog, drone serang satu arah yang dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian dan menurunkan biaya operasi. Kehadiran UAV ini mencerminkan ambisi Khartoum untuk memodernisasi militernya secara berkelanjutan.

    Safaroog memiliki presisi tinggi, jangkauan luas, dan kemampuan adaptasi yang membuatnya efektif untuk serangan ofensif maupun pengendalian wilayah konflik. Drone ini juga menunjukkan bahwa Sudan mulai mampu menghasilkan alternatif lokal terhadap drone impor dari China dan Iran. Strategi ini mengurangi ketergantungan pada suplai luar dan meningkatkan kemampuan teknologi domestik.

    Selain itu, Safaroog telah menarik perhatian pasar regional. Minat dari negara-negara Timur Tengah membuka peluang ekspor, menandai Sudan sebagai pemain baru dalam industri pertahanan regional. UAV ini tidak hanya berperan dalam konflik domestik, tetapi juga menunjukkan kapasitas Sudan untuk bersaing di pasar global.

    Dalam operasi di lapangan, SAF berhasil mengamankan sistem perang elektronik Groza-S yang semula digunakan RSF. Sistem ini dikembangkan oleh Belarus dan berfungsi untuk menetralkan ancaman UAV lawan. Penangkapan perangkat ini di pangkalan RSF utara Khartoum memperlihatkan intensitas persaingan teknologi di tengah konflik bersenjata.

    Groza-S dan UAV lainnya memperlihatkan bahwa dimensi udara menjadi semakin krusial dalam perang Sudan. Kedua belah pihak kini mengandalkan kombinasi drone ofensif dan sistem anti-UAV untuk memperoleh keunggulan di medan tempur. Persaingan ini mendorong inovasi cepat dan adopsi teknologi baru secara berkesinambungan.

    Pemerintahan versi Nyala menghadapi tantangan besar dalam industri drone. Nyala berencana membangun kemampuan dari awal, termasuk fasilitas produksi dan program pelatihan operator UAV. Ambisi ini menunjukkan keinginan RSF untuk mengejar ketertinggalan dibandingkan Khartoum yang sudah memiliki armada Safaroog.

    Meski baru memulai, Nyala memiliki peluang strategis karena dapat menyesuaikan desain dan produksi UAV sesuai kebutuhan lapangan. Pendekatan ini memungkinkan RSF memanfaatkan pengalaman konflik sebelumnya dan menyesuaikan teknologi untuk menghadapi SAF yang lebih dulu memiliki drone canggih.

    Industri drone di Nyala juga bisa memanfaatkan kerjasama eksternal. Negara-negara yang selama ini mendukung RSF, termasuk beberapa negara Timur Tengah, potensial menjadi sumber teknologi, pelatihan, maupun bahan baku UAV. Hal ini dapat mempercepat proses produksi dan mengurangi waktu pengembangan.

    Persaingan ini bukan sekadar soal jumlah drone, tetapi juga kemampuan operasional dan integrasi sistem. SAF dengan Safaroog telah menekankan efisiensi, presisi, dan interoperabilitas dengan sistem komando. Nyala harus mengejar tidak hanya produksi, tetapi juga integrasi teknologi ke dalam strategi militer.

    Kehadiran UAV dalam konflik Sudan telah mengubah paradigma peperangan. Drone kini menjadi alat utama dalam pengintaian, serangan presisi, dan kontrol wilayah. Kedua kubu menyadari bahwa penguasaan dimensi udara menjadi penentu kemenangan jangka panjang.

    Keunggulan teknologi udara Khartoum menjadi tantangan nyata bagi Nyala. Namun, RSF memiliki fleksibilitas untuk mengadopsi teknologi baru lebih cepat karena memulai dari nol. Hal ini memberi peluang untuk mengejar ketertinggalan jika strategi pengembangan UAV dijalankan konsisten.

    Pemerintahan versi Khartoum juga terus meningkatkan kemampuan drone impor. Drone dari China dan Iran tetap menjadi tulang punggung armada, sementara Safaroog menawarkan alternatif domestik yang lebih murah dan cepat diterapkan. Kombinasi ini memperkuat posisi Khartoum di medan tempur.

    Di sisi Nyala, proses pembangunan industri UAV membutuhkan waktu, tetapi pengalaman lapangan memberikan insight yang berharga. RSF dapat merancang UAV dengan fokus pada kebutuhan spesifik konflik Sudan, termasuk mobilitas tinggi dan kemampuan bertahan di medan yang sulit.

    Selain aspek militer, industri drone juga memiliki potensi ekonomi. Pengembangan UAV Safaroog telah menarik minat internasional, dan jika Nyala berhasil membangun kapasitas produksi, mereka juga dapat memanfaatkan peluang pasar regional, khususnya negara-negara yang ingin membeli UAV cost-effective.

    Persaingan drone ini mencerminkan perlombaan teknologi di tengah konflik internal Sudan. Kedua kubu berupaya menguasai dimensi udara, memaksimalkan efisiensi operasi, dan meningkatkan kemandirian teknologi. Kompetisi ini juga menjadi indikator kapasitas masing-masing pemerintah dalam inovasi pertahanan.

    Teknologi UAV kini menjadi simbol kekuatan dan kemampuan strategis Sudan. Safaroog, meski masih terbatas, menjadi representasi ambisi Khartoum untuk menguasai inovasi lokal. Nyala, di sisi lain, menekankan pembangunan dari awal sebagai kesempatan menutup celah teknologi.

    Secara keseluruhan, industri drone Sudan menjadi medan baru dalam konflik yang sudah berlangsung lama. Kemenangan di udara kini menjadi kunci dominasi wilayah dan memengaruhi keseimbangan kekuatan antara SAF dan RSF.

    Peluang Nyala untuk mengejar ketertinggalan tetap terbuka. Dengan strategi produksi yang tepat, dukungan eksternal, dan pemanfaatan pengalaman konflik, RSF bisa mulai menutup jarak dengan kemampuan drone Khartoum.

    Dengan begitu, persaingan industri UAV di Sudan bukan hanya soal alat tempur, tetapi juga soal inovasi, teknologi, dan pengaruh strategis. Masa depan konflik Sudan kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh siapa yang berhasil memimpin dalam dimensi udara.

    Selasa, 02 September 2025

    Admin2

    ‎Saat Israel Lumpuhkan Militer Suriah Pasca Assad Lengser‎

    ‎Serangan besar-besaran Israel terhadap Suriah setelah lengsernya Bashar al-Assad membuka babak baru dalam sejarah militer kawasan. Dalam waktu singkat, lebih dari tujuh puluh persen kekuatan strategis Suriah hancur.
    ‎Armada lautnya lenyap, pesawat tempurnya luluh lantak, sistem pertahanan udaranya porak-poranda. Peristiwa ini mencatatkan salah satu serangan tercepat dan paling menghancurkan di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
    ‎Angkatan Laut Suriah menjadi korban paling jelas dari gempuran ini. Seluruh kapal perang yang tersisa, termasuk kapal cepat kelas Osa-Class, hancur di pelabuhan Latakia dan Al-Bayda. Laporan menyebut sedikitnya lima belas kapal karam atau rusak parah hingga tak lagi bisa beroperasi. Dengan kondisi itu, Suriah praktis kehilangan kekuatan maritimnya di Laut Mediterania.
    ‎Tidak hanya laut, kekuatan udara Suriah juga menerima hantaman yang telak. Sedikitnya tiga puluh pesawat MiG-29 hancur, disusul belasan Sukhoi Su-24 yang luluh lantak di pangkalan udara. Armada MiG-23 yang berjumlah puluhan tak luput dari pemboman. Ditambah sebelas helikopter serbu Gazelle yang juga musnah, kekuatan udara Suriah mengalami kerugian yang hampir mustahil dipulihkan dalam waktu dekat.
    ‎Kerugian pada angkatan udara itu berarti lebih dari sekadar hilangnya pesawat. Infrastruktur penting seperti hanggar, jalur lepas landas, hingga depot senjata juga turut hancur. Tanpa dukungan logistik dan fasilitas pendukung, sisa pesawat yang mungkin selamat pun sulit untuk diterbangkan. Efek domino ini membuat Suriah kehilangan kemampuan bertahan di udara.
    ‎Sistem pertahanan udara Suriah pun tidak mampu menahan gempuran. Lebih dari delapan puluh persen sistem SA-17 dan SA-22 dihancurkan. Bahkan diperkirakan sembilan puluh persen jaringan pertahanan udara yang selama ini menjadi perisai Damaskus kini lumpuh total. Dengan situasi itu, langit Suriah terbuka lebar bagi pesawat-pesawat tempur Israel.
    ‎Tank dan kendaraan lapis baja juga menjadi target. Meski jumlah pastinya tidak terungkap, berbagai laporan menyebut ratusan unit dihancurkan atau ditinggalkan dalam kondisi rusak berat. Gudang amunisi dan pabrik perakitan militer Suriah juga dibom. Akibatnya, kemampuan Suriah untuk melakukan operasi darat dalam skala besar tereduksi drastis.
    ‎Serangan ini dilancarkan dengan intensitas luar biasa. Dalam waktu hanya 48 jam, antara 250 hingga 480 serangan udara ilegal dilakukan Israel ke berbagai titik strategis. Skala operasi ini menunjukkan perencanaan matang dan keterlibatan intelijen yang mendalam. Efek psikologisnya pun besar, karena dalam sekejap Suriah berubah dari negara dengan kekuatan militer cukup besar menjadi nyaris tak berdaya.
    ‎Total kerugian Suriah sulit dibayangkan. Lebih dari tujuh puluh hingga delapan puluh persen aset strategis militer mereka hancur. Nilai ekonominya bisa mencapai miliaran dolar, belum termasuk hilangnya kemampuan tempur. Dalam kondisi ekonomi yang sudah rapuh akibat perang panjang, membangun kembali kekuatan militer dalam waktu dekat nyaris mustahil dilakukan.
    ‎Yang menarik, banyak pengamat menilai serangan sebesar ini mustahil dilakukan tanpa sepengetahuan Rusia. Moskow memiliki pangkalan militer utama di Suriah, termasuk di Latakia dan Tartus. Sistem pertahanan udara canggih Rusia seperti S-300 dan S-400 juga ditempatkan di wilayah itu. Namun saat Israel menggempur, sistem-sistem tersebut seakan bungkam.
    ‎Diamnya Rusia menimbulkan spekulasi bahwa ada kesepahaman tidak tertulis dengan Israel. Hubungan militer kedua negara memang rumit. Di satu sisi, Rusia menjadi sekutu Assad selama perang Suriah. Namun di sisi lain, Rusia menjaga saluran komunikasi intens dengan Israel agar kepentingannya di kawasan tidak terganggu. Situasi ini membuat Suriah terjebak dalam dilema besar.
    ‎Bagi Israel, serangan ini adalah langkah strategis untuk mengamankan perbatasannya. Dengan melemahkan Suriah, Israel berharap pemerintahan baru Suriah di bawah Presiden Ahmed Al Sharaa menjadi mandul dan tumpul dalam mempertahankan kedaulatan negaranya. Serangan ini juga menjadi sinyal keras bahwa Israel tidak akan membiarkan ada kekuatan besar di dekat perbatasannya, khususnya dalam rangka proyek neo kolonialisme Greater Israel.
    ‎Bagi Suriah, kehancuran militer ini adalah pukulan paling menyakitkan sejak perang saudara meletus pada 2011. Meski Assad telah lengser, harapan membangun kembali negara yang stabil kini semakin jauh. Tanpa angkatan laut, tanpa kekuatan udara, dan dengan pertahanan udara yang lumpuh, Suriah berada di titik paling rentan sepanjang sejarah modernnya, yang membuat separatis milisi Druze Al Hajri dan SDF Kurdi meremehkan Damaskus.
    ‎Situasi ini juga mengubah peta geopolitik kawasan. Negara-negara tetangga melihat betapa lemahnya Suriah kini, sementara Israel memperlihatkan keunggulan mutlaknya. Mesir, Turki, dan Iran tentu mencatat perubahan ini dengan seksama. Kekuatan-kekuatan besar dunia juga tidak bisa mengabaikan dampaknya pada stabilitas kawasan Timur Tengah.
    ‎Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah Suriah di bawah Presiden Al Sharaa telah resmi menjadi jajahan Israel? Apakah Rusia akan tetap mempertahankan basis militernya pasca perubahan kepemimpinan? Akah Turkiye akan membiarkan warga Suriah dibantai kapan saja oleh Israel seperti yang terjadi di Gaza, Palestina? Ketidakpastian ini menambah rumitnya dinamika politik di kawasan.
    ‎Kerugian Suriah tidak hanya diukur dari sisi militer. Runtuhnya kekuatan pertahanan negara membuat rakyat Suriah semakin tidak terlindungi. Keamanan perbatasan rapuh, kontrol udara hilang, dan jalur laut tidak lagi bisa dijaga. Semua ini memperbesar ancaman dari Israel yang akan mendikte Damaskus dengan serangan berkala yang membunuh warga Suriah untuk menekan Damaskus dalam berbagai perundingan termasuk mengakui Dataran Tinggi Golan yang dijajah Tel Aviv secara ilegal menjadi milik resmi Israel.
    ‎Israel sendiri tampaknya belum selesai. Dengan Suriah yang kini lemah, operasi lanjutan telah dilakukan untuk memastikan tidak ada sisa kekuatan yang mampu bangkit kembali. Serangan lanjutan itu sekaligus menjadi pesan kepada Presiden Suriah yang baru bahwa Israel, dengan dukungan AS dan NaATO di belakang layar, bisa kapan saja membantai warga Suriah yang tak berdosa jika tak tunduk pada neo kolonialisme Israel Raya.
    ‎Meski demikian, serangan Israel juga bisa menimbulkan efek jangka panjang yang tak terduga. Kehancuran total Suriah mungkin akan memunculkan kenyatan politik baru. Tanpa negara yang kuat, Suriah bisa menjadi arena persaingan berbagai kekuatan regional dan internasional, persis seperti Irak pasca 2003.
    ‎Rusia kini berada dalam posisi sulit. Diamnya sistem pertahanan mereka saat Israel menyerang menimbulkan tanda tanya besar. Jika Moskow sengaja membiarkan, artinya mereka rela kepemimpinan Suriah yang baru untuk curiga pada posisinya. Jika tidak, maka berarti teknologi pertahanan mereka tidak mampu mencegah serangan Israel. Keduanya sama-sama menurunkan wibawa Rusia.
    ‎Di tengah semua ini, rakyat Suriah menjadi pihak yang paling menderita. Puluhan tahun mereka hidup dalam konflik, kini negara mereka kehilangan kemampuan bertahan. Jalan menuju pemulihan semakin panjang dan berliku. Rakyat Suriah menjadi target murah bagi hegemoni Israel yang tak pernah dihalau oleh PBB karena AS dkk di belakangnya. Dunia pun harus bertanya, apakah tragedi Suriah akan terus berlanjut tanpa akhir yang jelas.
    ‎Israel mungkin telah mencapai tujuan militernya, sebagai negara teror yang ditakuti di kawasan, tetapi dampak sosial dan politik dari serangan besar-besaran ini masih akan terasa lama. Suriah kini tinggal bayangan dari negara yang dulu dikenal sebagai kekuatan militer regional. Dan dunia kembali diingatkan betapa rapuhnya keseimbangan di Timur Tengah ketika kekuatan besar terlibat langsung dalam perang terbuka.

    Minggu, 31 Agustus 2025

    Admin2

    Dua Presiden Sudan dan Masa Depan Dialog Damai

    Kebuntuan politik di Sudan memasuki babak baru setelah Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti resmi dilantik sebagai kepala Dewan Kepresidenan dalam pemerintahan paralel yang berpusat di Nyala. Dengan langkah ini, Sudan kini menghadapi kenyataan memiliki dua presiden de facto, yakni Jenderal Abdel Fattah al-Burhan di Khartoum dan Hemedti di wilayah selatan.

    Video pelantikan yang beredar luas menunjukkan Hemedti mengucapkan sumpah setia kepada Republik Sudan. Ia berjanji menjalankan tugas dengan jujur, transparan, dan berkomitmen pada kemajuan rakyat. Namun, di balik sumpah itu, jelas terlihat adanya perebutan legitimasi politik di antara dua kubu militer yang kini membelah Sudan.

    Kehadiran dua pusat kekuasaan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan dialog damai di negeri tersebut. Di satu sisi, Burhan masih menguasai struktur pemerintahan resmi dan mendapat dukungan sebagian komunitas internasional. Di sisi lain, Hemedti melalui Rapid Support Forces (RSF) yang akan menjadi militer resmi pemerintahan paralel berhasil membangun basis kekuasaan di wilayah barat dan selatan.

    Konflik yang awalnya bersifat militer kini berkembang menjadi krisis politik yang lebih kompleks. Kehadiran “dua presiden” membuat situasi semakin sulit diprediksi. Para analis khawatir bahwa Sudan bisa menuju pembelahan permanen jika tidak segera ada ruang dialog.

    Hemedti dalam pidato sumpahnya menekankan tekad untuk menjaga persatuan Sudan dan menjunjung konstitusi transisi. Namun, kenyataannya, tindakannya justru memperkuat polarisasi dengan membentuk pemerintahan tandingan. Hal ini membuat dialog damai menjadi agenda yang semakin berat.

    Burhan sejauh ini belum memberikan sinyal akan mengakui pemerintahan paralel tersebut. Ia tetap mengklaim sebagai kepala negara sah dan menolak semua upaya yang dianggap melemahkan otoritasnya di Khartoum. Sikap keras ini menunjukkan bahwa peluang dialog masih tertutup rapat. Meski PM baru versi Khartoum telah mengeluarkan sinyal perdamaian.

    Tekanan internasional semakin besar terhadap kedua pihak untuk mencari jalan keluar damai. Negara-negara tetangga dan organisasi regional seperti Uni Afrika mendorong agar dialog Sudan-Sudan bisa dimulai dengan prinsip kompromi. Namun, sejauh ini kedua pemimpin belum menunjukkan kesiapan menyerahkan sebagian kekuasaan.

    Pengamat menilai salah satu kendala utama adalah perebutan legitimasi. Selama masing-masing kubu menganggap dirinya sebagai pemerintah sah, sulit membayangkan mereka duduk di meja perundingan dengan posisi sejajar. Situasi ini bisa menyerupai konflik Libya yang juga terpecah karena adanya dua pemerintahan.

    Meskipun demikian, sejumlah analis optimistis bahwa faktor kelelahan perang dan krisis ekonomi bisa memaksa kedua pihak untuk berunding. Rakyat Sudan menghadapi kondisi kemanusiaan yang kian memburuk, dan tekanan publik bisa menjadi pendorong agar dialog benar-benar terjadi.

    Hemedti berusaha menampilkan citra sebagai pemimpin yang pluralis dan demokratis. Dalam sumpahnya, ia menyebut akan melindungi hak-hak rakyat dan mendukung sistem pemerintahan yang adil. Namun skeptisisme tetap tinggi dan kedua pemerintahan Sudan harus berkompetisi memajukan daerah masing-masing.

    Burhan pun berusaha memposisikan diri sebagai penjaga negara dan simbol kontinuitas. Namun, ia juga menghadapi kritik karena dianggap gagal mengembalikan stabilitas dan terus bergantung pada kekuatan militer. Keduanya sama-sama dipandang memiliki legitimasi yang rapuh.

    Dialog damai Sudan-Sudan sejatinya sangat mungkin terjadi bila ada mediator yang dipercaya kedua belah pihak. Namun, tantangan terbesarnya adalah menemukan sosok atau lembaga yang bisa menjembatani jurang kepercayaan yang begitu dalam antara Burhan dan Hemedti.

    Skenario terburuk adalah Sudan memasuki fase perpecahan permanen. Jika pemerintahan paralel terus berjalan, negara itu bisa terbelah antara timur-utara yang dikuasai Burhan dan barat-selatan di bawah Hemedti. Hal ini akan memperpanjang penderitaan rakyat yang sudah menghadapi krisis pangan dan pengungsian.

    Namun ada juga kemungkinan skenario kompromi. Jika salah satu pihak merasa terdesak, dialog bisa muncul dengan agenda pembagian kekuasaan sementara hingga tercapai kesepakatan transisi. Meski tampak jauh, opsi ini tetap dianggap sebagai jalan yang lebih realistis daripada perpecahan.

    Di tingkat regional, negara-negara tetangga Sudan khawatir konflik ini akan meluas. Sudan yang stabil sangat penting bagi keamanan kawasan, terutama bagi Mesir, Ethiopia, dan Chad. Mereka berpotensi memainkan peran lebih besar untuk mendorong dialog.

    Masyarakat internasional, terutama Barat, cenderung masih berhati-hati menyikapi dualisme kepemimpinan ini. Dukungan terbuka terhadap salah satu pihak bisa memperburuk konflik. Karena itu, tekanan diplomatik lebih diarahkan untuk membawa kedua pemimpin ke meja perundingan.

    Bagi rakyat Sudan, keberadaan dua presiden bukanlah simbol demokrasi, melainkan cerminan dari krisis negara yang tak kunjung selesai. Mereka berharap agar perselisihan elit segera diakhiri demi memulihkan kehidupan yang normal.

    Tantangan ke depan bukan hanya meyakinkan Burhan dan Hemedti untuk berdialog, tetapi juga memastikan bahwa dialog itu benar-benar membawa perubahan. Tanpa komitmen tulus dari kedua belah pihak, negosiasi hanya akan menjadi sandiwara politik yang berulang.

    Masa depan Sudan kini berada di persimpangan jalan. Apakah Burhan dan Hemedti mampu mengesampingkan ambisi pribadi demi persatuan bangsa, atau justru akan membawa negara itu ke jurang perpecahan permanen? Dialog Sudan-Sudan masih mungkin, tetapi jalannya penuh ranjau politik dan militer.
    Jenderal Abdel Fattah al-Burhan yang kini menjadi kepala pemerintahan di Khartoum adalah seorang perwira tinggi militer yang naik ke puncak kekuasaan setelah menggulingkan pemerintahan sipil pada 2021. Ia dikenal sebagai figur konservatif yang berupaya mempertahankan struktur negara dengan basis militer, sekaligus menjaga hubungan dengan Mesir dan negara Teluk. Kabinetnya terdiri dari figur-figur yang dekat dengan militer dan birokrat senior yang masih loyal kepada struktur negara lama. Fokus utama pemerintahan Burhan adalah mempertahankan legitimasi internasional, mengamankan Khartoum sebagai pusat kekuasaan, dan mencoba mengelola krisis ekonomi yang semakin menghimpit rakyat.

    Di sisi lain, Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti yang memimpin pemerintahan paralel di Nyala membangun basis kekuasaan melalui Rapid Support Forces (RSF), pasukan paramiliter yang berakar dari kelompok Janjaweed di Darfur. Hemedti berusaha menampilkan diri sebagai pemimpin rakyat dengan citra pluralis dan demokratis, meski reputasinya banyak dikaitkan dengan kekerasan. Kabinet paralelnya diisi oleh tokoh-tokoh sipil dan politikus lokal dari wilayah barat dan selatan yang selama ini merasa terpinggirkan oleh pusat. Pemerintahan ini diproyeksikan sebagai alternatif bagi mereka yang kecewa pada rezim Burhan, dengan agenda membangun Sudan yang lebih inklusif, meskipun keabsahannya di mata dunia masih dipertanyakan.

    Berikut adalah profil nama Perdana Menteri dan jajaran kabinetnya dari kedua pemerintahan di Sudan:


    ---

    Pemerintah Resmi (di bawah Presiden Burhan)

    Per 31 Mei 2025, Kamil Idris menjabat sebagai Perdana Menteri Sudan yang diakui secara internasional. Kabinetnya—disebut sebagai "Pemerintah Harapan" (Government of Hope)—tengah dirancang dan terdiri dari 22 menteri. Beberapa nama penting dalam kabinet ini adalah:

    Ismat Qureshi Abdallah sebagai Menteri Pertanian dan Irigasi,

    Lemia Abdel Ghaffar Khalafallah menjabat Menteri Urusan Kabinet (Cabinet Affairs),

    Hassan Daoud Kayan sebagai Menteri Pertahanan,

    Ahmed al-Dirdiri Ghandour memimpin Kementerian Transformasi Digital dan Komunikasi,

    Al-Tohami Al-Zain Hajar sebagai Menteri Pendidikan,

    Al-Mutasim Ibrahim sebagai Menteri Energi dan Perminyakan,

    Gibril Ibrahim memegang posisi Menteri Keuangan dan Perencanaan Ekonomi,

    Omar Mohamed Ahmed Siddig (menteri negara) menjabat sebagai Menteri Luar Negeri,

    Sulaima Ishaq (menteri negara) sebagai Menteri Sumber Daya Manusia dan Kesejahteraan Sosial,

    Mahasen Ali Yaqoub sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan,

    Babiker Samra Mustafa memimpin Kementerian Dalam Negeri,

    Abdullah Mohamed Derf sebagai Menteri Kehakiman,

    Bashir Haroun Abdel Karim Abdullah sebagai Menteri Agama, dan

    Ahmed Adam Ahmed menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga .

    ---

    Pemerintah Paralel (di bawah Hemedti)

    Sementara itu, Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti) telah dilantik sebagai kepala pemerintahan paralel di Nyala, Sudan, mewakili Dewan Kepresidenan pemerintahan tandingan. Namun hingga saat ini tidak ada informasi publik resmi mengenai siapa saja yang duduk sebagai Perdana Menteri atau menteri-menteri dalam kabinet ini .

    Baik, saya akan rangkum perkiraan populasi di wilayah masing-masing pemerintahan Sudan (Burhan vs Hemedti) sekaligus sumber daya alam yang mereka kuasai. Data ini sifatnya perkiraan karena konflik membuat angka resmi sulit diverifikasi.


    Wilayah Pemerintah Burhan (Khartoum dan wilayah timur-utara Sudan)

    • Populasi: Sekitar 20–22 juta jiwa. Khartoum sendiri sebelum perang dihuni lebih dari 7 juta orang, namun jutaan telah mengungsi akibat konflik. Wilayah utara dan timur yang masih berada di bawah kendali Burhan termasuk Port Sudan, yang kini menjadi pusat administratif sementara, serta daerah di sepanjang Sungai Nil.
    • Sumber daya alam:
      • Pertanian: Lahan subur di sepanjang Sungai Nil, terutama gandum, sorgum, dan kapas.
      • Pelabuhan: Port Sudan di Laut Merah adalah akses utama ekspor-impor, termasuk minyak dan emas.
      • Energi: Infrastruktur minyak (pipa ekspor ke Port Sudan), meski banyak ladang minyak berada di wilayah selatan.
      • Mineral: Deposit tembaga, mangan, dan seng di bagian utara.

    Wilayah Pemerintah Paralel Hemedti (RSF di Darfur, Kordofan, Nyala, dan sebagian barat-selatan Sudan)

    • Populasi: Sekitar 15–17 juta jiwa. Wilayah Darfur memiliki sekitar 9–10 juta sebelum perang, meski sebagian besar mengungsi ke Chad. Nyala, ibu kota Darfur Selatan, menjadi pusat administrasi pemerintahan paralel. Kordofan juga berpenduduk padat dengan komunitas pastoral.
    • Sumber daya alam:
      • Emas: Darfur dan Kordofan merupakan pusat tambang emas terbesar di Sudan. RSF diketahui menguasai jalur perdagangan emas ilegal, yang menjadi sumber pendanaan utama mereka.
      • Pertanian: Produksi biji-bijian, kacang tanah, dan tanaman ternak di dataran luas Darfur dan Kordofan.
      • Peternakan: Populasi unta, sapi, dan domba yang besar, penting bagi perdagangan lokal dan ekspor.
      • Kayu dan gum arabic: Darfur menghasilkan getah arab (gum arabic) yang merupakan komoditas ekspor penting Sudan.

    Gambaran Umum

    Secara total, Sudan memiliki sekitar 47–50 juta penduduk (perkiraan PBB 2025), namun kini terpecah oleh konflik dan jutaan mengungsi ke luar negeri, terutama ke Chad, Mesir, dan Ethiopia. Dari sisi sumber daya, Burhan menguasai akses laut dan ekspor resmi, sementara Hemedti menguasai tambang emas dan jalur perdagangan darat ke Chad dan Libya. Inilah yang membuat konflik sulit dipadamkan, karena kedua pihak sama-sama punya basis ekonomi dan demografi yang kuat.

    Baca selanjutnya

    Perumahan Islami |   • Bisnis Bakrie |   • Bisnis Kalla |   • Rancang Ulang |   • Bisnis Khairul Tanjung |   • Chow Kit |   • Pengusaha |   • Ayo Buka Toko |   • Wisata |   • Medco |   • Fansur |   • Autopart |   • Rumpin |   • Berita Aja |   • SWPD |   • Polemik |   • Perkebunan |   • Trumon |   • Legenda Putri Hijau |   • Ambalat conflictTerumbu Karang |   • Budidaya Ikan Hias Air Tawar |   • Budidaya Sawit |   • FlyDubai |   • PT Skunk Engineering Jakarta |   • Sejarah |   • They Rape Aour Grandma |   • Museum Sumut |   • Sorkam |   • Study |   • Indonesian University |   • Scholarship in Indonesia |   • Arabian InvestorsD-8 |   • BRIC-MIT |   • Negeriads-ku |   • Panen Iklan |   • PPC Indo |   • Adsensecamp |   • PPCMuslim |   • Iklan-ku |   • Iklan Buku |   • Internet Desa |   • Lowongan Kerja |   • Cari Uang Online |   • Pengusaha Indonesia |   • Indonesia Defense |   • Directory Bisnis |   • Inpire |   • Biofuel |   • Innovation |  
    loading...