H. Anif Shah: Ikon Baru Pengusaha Sum-Ut

Selasa, 16 Februari 2010

Bagi masyarakat Sumatera Utara, nama Anif Shah dikenal cukup luas, terutama karena kedermawanan dan kesuksesannya sebagai pengusaha. Anif adalah pengusaha sekaligus pemilik Grup Anugerah Langkat Makmur (Alam) yang bisnisnya mencakup bidang perkebunan dan pabrik kelapa sawit, properti, kompos, SPBU, sarang burung walet, dll. Anif dan keluarganya juga aktif di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan Sum-Ut.


Tonggak popularitas Anif, antara lain, sukses membangun megaperumahan mewah di Medan, Kompleks Cemara Asri dan Cemara Abadi. Maklum, kompleks perumahan ini terbilang paling mewah di Medan, selain Kompleks Setiabudi, dengan harga per unit di atas Rp 2,5 miliar. “Kami punya sekitar 300 hektare tanah di kompleks ini, tetapi yang dibuka baru 130 ha,” kata Musa Rajecksjah, putra Anif yang ditugasi sebagai Dirut Alam.

Anif mulai menggeluti bisnis perkebunan sawit tahun 1982. “Waktu itu perkebunan sawit di Sum-Ut belum populer. Tanah masih murah dan pemainnya sedikit,” ujar Musa yang juga pembalap dan Ketua IMI Sum-Ut itu. Anif mulai membuka usaha perkebunan dengan skala kecil. Awalnya hanya sekitar 1.500 ha di Langkat. Namun, dari situ terus dikembangkan. Mulanya hanya punya lahan di Langkat, kini sudah punya di Deli Serdang, Mandailing Natal dan Riau. “Total lahan kami sekitar 30 ribu ha,” kata Musa yang mulai dilibatkan mengelola bisnis sawit keluarga pada 2004. Yang jelas, meski sudah punya pabrik pengolahan kelapa sawit di Langkat, Alam berencana membangun empat pabrik lagi.

Salah satu yang menonjol dari perkebunan Grup Alam dibanding perkebunan swasta lainnya ialah soal manajemen plasma dan kemitraan dengan petani. Alam memang ingin maju bersama petani di lingkungan kebunnya. Tak mengherankan, di Mandailing Natal Alam punya 3.000 petani plasma dan di Langkat memiliki 233 KK. Sementara perusahaan perkebunan lain, sesuai dengan aturan pemerintah, memberi lahan ke petani plasma per KK seluas 2 ha, Alam memberi lahan seluas 3 ha per KK. “Karena itu, di kebun kami hubungan dengan petani sangat baik dan kami beberapa kali mendapatkan penghargaan dari pemerintah,” papar Musa yang juga menjelaskan, kebun dan pabriknya pernah dijadikan studi banding oleh Kementerian Pertanian Belanda.

Musa yang biasa dipanggil Ijeck bertekad mengembangkan bisnis perkebunan keluarganya dan ke depan bisnis perkebunan akan menjadi inti, selain pengembangan perumahan. Tak aneh, meski perusahaan daerah, pihaknya serius belajar manajemen modern dengan mengundang konsultan ISO dunia, TÃœV Rheinland Group. “Awalnya hanya ingin belajar dari mereka, tidak tahunya mereka menyarankan sekalian sertifikasi dan audit,” tutur penggemar Harley-Davidson ini seraya menjelaskan, perusahaannya telah mendapatkan ISO 9001:2000.

Karena implementasi konsep manajemen modern pula, ketika harga CPO pernah jatuh tahun 2008, pihaknya bisa selamat. “Waktu itu kami sempat rugi tiga bulan. Cuma karena kami bisa mengelola cadangan dana, kami bisa selamat,” ujarnya. Ini berbeda dari para petani lain yang banyak gulung tikar karena tidak mengelola dana cadangan dengan baik.

Selain perkebunan, properti dan SPBU, Grup Alam juga sudah mulai memasuki bisnis pembuatan kompos dengan mengolah limbah CPO. Adapun bisnis walet gua di pinggiran Sum-Ut lebih banyak dimanfaatkan untuk membantu masyarakat di tiga desa di sekitar gua, baik untuk mendirikan sekolah, menaikkan haji petani maupun memberi beasiwa. “Bisnis walet sudah tidak kami konsolidasikan keuangannya ke Grup karena bapak saya maunya untuk kegiatan sosial saja,” tutur Musa.

Menurut Musa, ayahandanya memang banyak berderma sebagai bagian dari syukur karena diberi kemurahan rezeki oleh Yang di Atas. “Orang tua saya dulu orang susah. Pernah karena nggak punya beras, lalu beras yang ada dijadikan bubur supaya bisa dibagi banyak orang, 9 anak,” ujarnya mengenang sang ayahn. “Bapak saya merasa tersayat untuk bangkit ketika anaknya harus nonton teve tetangga karena kami belum memiliki televisi,” lanjutnya tentang kejadian masa kecil puluhan tahun lalu.

Kini, jangankan nonton teve, membeli stasiun teve pun, rasanya Anif mampu. Namun Musa, sang putra mahkota, memilih tidak membeli stasiun teve, melainkan membangun sirkuit balap mobil. Tak lama lagi dia juga akan menjadi distributor Harley-Davidson di Sum-Ut. “Ah, itu cuma untuk menyalurkan hobi saya,” tutur pria berdarah Arab itu kalem.

2 komentar:

madan sagala mengatakan...

semoga segala usaha yang bapak lakukan berbuah kesuksesan

pristi.one2 mengatakan...

Kalau semua pengusaha di indonesia seperti bapak pasti Negara ini akan Sejahtera,makmur...lanjutkan terus pak....

 
 
 

Pengusaha

Medan

Wisata

Terkaya

 
Copyright © Pengusaha Medan