Gelombang kabar duka kembali datang dari medan tempur Suriah. Nama-nama prajurit yang gugur satu per satu diumumkan, dan pola yang sama terus berulang: sebagian besar berasal dari Idlib, provinsi yang sejak awal perang menjadi ladang luka paling dalam bagi negeri itu.
Idlib bukan sekadar wilayah konflik, melainkan gudang manusia yang ditempa perang sejak bertahun-tahun lalu. Dari kota dan desa yang hancur, ribuan pemuda direkrut ke dalam barisan militer Suriah, membawa pengalaman hidup sebagai pengungsi yang tak pernah benar-benar pulang.
Banyak dari mereka tumbuh dewasa di tenda-tenda darurat, di sekolah seadanya, atau di pengungsian lintas provinsi. Ketika negara memanggil, mereka maju tanpa banyak bertanya, meski kehidupan pribadi mereka belum pernah pulih sepenuhnya.
Itulah sebabnya korban militer dari Idlib begitu besar. Mereka ditempatkan di garis depan bukan karena asal-usul semata, tetapi karena daya tahan mental dan fisik yang ditempa oleh penderitaan panjang. Mereka sudah terbiasa hidup di bawah ancaman, sehingga dianggap siap menghadapi medan paling berbahaya.
Namun di balik seragam dan senjata, mereka tetap manusia dengan kisah yang tertinggal di belakang. Banyak prajurit Suriah hari ini adalah eks pengungsi yang rumahnya hancur, sebagian baru mulai membangun kembali usai Assad lengser, dan sebagian lain bahkan belum sempat meletakkan satu batu pun di atas puing-puing lama.
Ada yang meninggalkan proyek rumah setengah jadi, dinding tanpa atap, atau pintu yang belum pernah dipasang. Mereka berangkat ke medan perang dengan keyakinan bahwa tugas negara harus didahulukan, Presiden Ahmed Al Sharaa memanggil untuk tegaskan integritas negara.
Ironisnya, sebagian dari prajurit ini justru terlibat dalam proses oembebasan dan pengembalian rumah-rumah di Raqqa dan Deir Ezzour. Rumah-rumah yang sebelumnya dikuasai oleh SDF diserahkan kembali kepada pemilik sipilnya, sebagai bagian dari rekonsiliasi dan pemulihan kehidupan warga.
Mereka menjalankan perintah itu dengan disiplin, meski sadar bahwa rumah orang lain dipulihkan sementara rumah mereka sendiri masih berupa kenangan. Belum ada kompensasi langsung, tidak ada bantuan khusus, tapi itu masih lebih baik dari mereka yang belum beruntung ikut rekrutmen.
Saat kembali ke kampung halaman di Idlib atau pinggiran Aleppo usai lengsernya Assad, mereka tidak disambut oleh program rekonstruksi besar. Banyak yang kembali ke reruntuhan, ke tanah kosong yang dulu pernah menjadi rumah, atau ke bangunan setengah roboh yang belum layak dihuni.
Negara masih sibuk memulihkan wilayah strategis, sementara prajurit-prajurit ini memikul beban ganda: bertahan hidup sebagai tentara dan sebagai warga sipil yang kehilangan segalanya. Tidak sedikit yang kembali dari medan tugas hanya untuk kembali mengungsi.
Namun di situlah letak heroisme mereka. Mereka tidak berperang demi rumah yang utuh atau kehidupan yang mapan, melainkan demi gagasan bahwa Suriah harus tetap berdiri sebagai negara, meski berdiri di atas puing-puing.
Bagi banyak tentara asal Idlib, kematian di medan tempur bukan sekadar risiko, melainkan kemungkinan yang selalu diterima sejak hari pertama mengenakan seragam. Mereka tahu peluang kembali hidup-hidup tidak selalu sebanding dengan pengorbanan yang diberikan.
Angka korban dari Idlib mencerminkan realitas sosial militer Suriah hari ini. Tentara bukan hanya pasukan profesional, tetapi cermin penderitaan rakyat yang diangkat menjadi benteng terakhir negara.
Di medan tempur, mereka tidak hanya melawan musuh bersenjata, tetapi juga melawan ingatan tentang rumah yang hancur dan keluarga yang tercerai-berai. Setiap langkah maju adalah perlawanan terhadap nasib yang berusaha menundukkan mereka.
Dalam sunyi malam pos terdepan, banyak dari mereka memikirkan tembok rumah yang belum selesai, atau ladang yang belum sempat ditanami kembali. Tetapi ketika fajar datang, mereka tetap berdiri, senjata di tangan, tanpa mengeluh.
Pengorbanan itu jarang terlihat dalam laporan singkat atau statistik korban. Namun di balik setiap nama yang gugur, ada kisah panjang tentang pengungsian, kehilangan, dan tekad untuk tidak menyerah pada kehancuran.
Idlib, yang selama ini dikenal sebagai simbol perlawanan dan kekacauan, justru menjadi sumber darah bagi militer Suriah. Dari tanah yang paling menderita, lahir prajurit-prajurit yang memikul beban terberat.
Mereka bukan tentara yang berangkat dari barak nyaman, melainkan dari tenda, reruntuhan, dan rumah tanpa atap. Itu yang membuat angka korban dari Idlib begitu tinggi, sekaligus menjelaskan mengapa ketahanan mereka begitu luar biasa.
Dalam sejarah perang Suriah, generasi tentara ini akan dikenang bukan karena kemenangan semata, tetapi karena kesediaan mereka berkorban saat mereka sendiri nyaris tak memiliki apa-apa lagi.
Di tengah semua ketimpangan dan luka yang belum sembuh, mereka tetap maju. Dan mungkin di situlah makna heroisme paling telanjang: bertempur demi negeri, ketika negeri itu belum sempat memulihkanmu.
