Sebuah cuitan keras dari penulis dan analis politik Turki, Ibrahim Karagül, kembali memantik perdebatan tajam di kawasan Timur Tengah. Dalam unggahan singkat namun sarat makna itu, Karagül menuding runtuhnya apa yang ia sebut sebagai “sistem uang berdarah” yang selama bertahun-tahun beroperasi di Suriah utara.
Menurut Karagül, sumber utama dari sistem tersebut adalah eksploitasi minyak Suriah yang terjadi selama bertahun-tahun. Ia secara langsung menuding Masoud Barzani sebagai pihak yang menikmati keuntungan terbesar dari praktik tersebut, sebelum akhirnya kehilangan sumber kekayaan itu seiring perubahan situasi di Suriah.
Cuitan itu menyebut bahwa minyak Suriah telah “dimakan” atau dieksploitasi selama bertahun-tahun, dan kehilangan akses terhadap sumber daya itulah yang menjadi penyebab utama kegelisahan politik Barzani saat ini. Hilangnya aliran dana itu digambarkan sebagai titik balik yang menentukan.
Karagül juga menyoroti hubungan finansial antara Barzani dan kelompok bersenjata Kurdi seperti PKK dan YPG. Dalam narasinya, organisasi-organisasi tersebut bukan sekadar mitra ideologis, melainkan aset bernilai ratusan juta dolar.
Hubungan tersebut, menurut Karagül, menjadikan Barzani tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab atas aktivitas terorisme. Ia menegaskan bahwa melalui PKK, Barzani secara tidak langsung terlibat dalam konflik melawan Turki dan Suriah.
Tuduhan ini mengaitkan konflik bersenjata lintas negara dengan kepentingan ekonomi, khususnya penguasaan sumber daya energi. Karagül menggambarkan konflik tersebut bukan semata persoalan etnis atau politik, melainkan perang yang digerakkan oleh uang.
Dalam cuitannya, ia menyatakan bahwa Suriah kini mulai bangkit kembali. Kebangkitan ini, menurutnya, beriringan dengan runtuhnya “roda teror” yang sebelumnya berputar berkat dana ilegal dan jaringan ekonomi gelap.
Narasi tersebut menggambarkan bahwa melemahnya kelompok bersenjata di Suriah utara bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat terputusnya aliran dana yang selama ini menopang operasional mereka.
Karagül menggunakan istilah “penipuan besar” untuk menggambarkan sistem ekonomi yang menurutnya telah lama menipu banyak pihak. Sistem itu disebut sebagai jaringan uang kotor yang bercampur dengan darah akibat konflik berkepanjangan.
Runtuhnya sistem tersebut, menurut Karagül, bukan hanya kegagalan ekonomi, tetapi juga kekalahan moral dan politik bagi aktor-aktor yang terlibat di dalamnya.
Ia menegaskan bahwa pihak yang paling dirugikan dari perubahan ini adalah Barzani. Kehilangan akses terhadap minyak Suriah dan jaringan bersenjata dianggap sebagai pukulan strategis yang sulit dipulihkan.
Cuitan ini muncul di tengah dinamika baru di Suriah, ketika pemerintah Damaskus perlahan memulihkan kontrol atas wilayah dan sumber daya strategis yang sebelumnya berada di luar kendalinya.
Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan Karagül mencerminkan sudut pandang sebagian elite Turki yang melihat konflik Suriah utara sebagai arena persaingan ekonomi dan keamanan regional.
Isu keterlibatan aktor Kurdi lintas negara, khususnya antara Suriah dan Irak, memang telah lama menjadi sumber ketegangan antara Ankara, Damaskus, dan Erbil.
Dengan mengaitkan langsung Barzani pada PKK/YPG, Karagül mendorong narasi bahwa garis pemisah antara aktor politik Kurdi dan kelompok militan menjadi kabur.
Cuitan tersebut juga dapat dibaca sebagai pesan politik kepada komunitas internasional agar melihat konflik Suriah tidak hanya dari perspektif kemanusiaan, tetapi juga dari sisi ekonomi gelap yang menopangnya.
Reaksi terhadap pernyataan ini pun beragam. Sebagian mendukung narasi Karagül sebagai pembongkaran jaringan lama, sementara lainnya menilai tuduhan itu bersifat politis dan provokatif.
Meski hanya berupa cuitan, dampaknya meluas karena menyentuh nama besar dan isu sensitif di kawasan yang masih rapuh.
Di tengah perubahan peta kekuatan di Suriah utara, tudingan tentang “sistem uang berdarah” menambah lapisan baru dalam perdebatan regional.
Apakah runtuhnya sistem tersebut benar-benar menandai akhir dominasi ekonomi lama, atau sekadar perubahan pemain, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Namun satu hal jelas, cuitan ini menegaskan bahwa di balik konflik bersenjata, pertarungan sesungguhnya sering kali berkisar pada uang, sumber daya, dan siapa yang akhirnya keluar sebagai pemenang atau pecundang.
