Sejarah konflik di kawasan Teluk Persia merupakan rangkaian panjang perebutan pengaruh yang melibatkan kekuatan lokal dan kekuatan besar dunia. Dari era kekaisaran hingga geopolitik modern, wilayah ini menjadi salah satu pusat persaingan paling strategis karena posisinya yang mengontrol jalur energi global.
Pada abad ke-19, sebagian besar wilayah di sekitar Teluk Persia masih berada di bawah pengaruh Ottoman Empire di bagian barat dan kekuasaan Qajar dynasty di Persia. Namun kontrol kedua kekuatan ini tidak sepenuhnya kuat, terutama di wilayah pesisir yang jauh dari pusat pemerintahan.
Kelemahan kontrol tersebut membuka peluang bagi kekuatan Eropa, khususnya Inggris, untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Teluk. Inggris memandang wilayah ini sebagai jalur penting untuk melindungi kepentingan kolonialnya di India dan menjaga rute perdagangan global.
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Inggris mulai membangun jaringan protektorat di kawasan Teluk. Negara-negara kecil seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, serta wilayah yang kemudian menjadi United Arab Emirates berada di bawah perlindungan politik Inggris.
Sistem protektorat ini memungkinkan penguasa lokal tetap memerintah wilayah mereka, tetapi urusan pertahanan dan hubungan luar negeri berada di bawah pengaruh Inggris. Dengan cara ini, Inggris dapat mengendalikan keamanan Teluk tanpa harus menjadikannya koloni langsung.
Sementara itu di Persia, kekuasaan dinasti Qajar semakin melemah akibat tekanan ekonomi, konflik internal, dan intervensi asing. Negara tersebut menjadi arena persaingan antara Inggris dan Rusia dalam rivalitas geopolitik yang dikenal sebagai “Great Game”.
Persaingan ini mencapai puncaknya pada awal abad ke-20 ketika kedua kekuatan menandatangani perjanjian yang secara tidak langsung membagi Persia ke dalam zona pengaruh. Wilayah utara berada di bawah pengaruh Rusia, sementara wilayah selatan lebih dekat dengan kepentingan Inggris.
Selama periode tersebut, Iran sering mengalami intervensi militer maupun ekonomi dari kekuatan asing. Bahkan selama Perang Dunia I, wilayah Persia sempat diduduki oleh pasukan Inggris, Rusia, dan Ottoman meskipun negara tersebut menyatakan netralitas.
Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk semakin meningkat setelah ditemukannya minyak dalam jumlah besar pada awal abad ke-20. Penemuan ini mengubah Teluk Persia dari kawasan perdagangan regional menjadi pusat energi global.
Konflik besar berikutnya muncul pada awal 1950-an ketika Perdana Menteri Iran, Mohammad Mosaddegh, memutuskan untuk menasionalisasi industri minyak yang sebelumnya didominasi perusahaan Inggris.
Keputusan tersebut memicu krisis besar dengan Inggris dan sekutunya di Barat. Nasionalisasi minyak dianggap mengancam kepentingan ekonomi Barat di kawasan yang sangat bergantung pada energi dari Teluk Persia.
Pada tahun 1953, terjadi peristiwa yang dikenal sebagai 1953 Iranian coup d'état. Kudeta ini menggulingkan pemerintahan Mosaddegh dan mengembalikan kekuasaan kepada Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi.
Operasi tersebut dilakukan melalui operasi rahasia yang dikenal sebagai Operation Ajax dan didukung oleh intelijen Amerika Serikat dan Inggris. Kudeta ini terjadi setelah Mosaddegh menasionalisasi industri minyak Iran yang sebelumnya dikendalikan perusahaan Inggris.
Setelah kudeta tersebut, Iran menjadi salah satu sekutu penting Barat selama era Perang Dingin. Pemerintahan Shah menerima dukungan ekonomi dan militer dari Amerika Serikat selama lebih dari dua dekade.
Namun stabilitas tersebut tidak bertahan lama. Pada 1979 terjadi revolusi besar di Iran yang menggulingkan monarki dan melahirkan Republik Islam Iran yang bersikap sangat kritis terhadap Barat.
Sejak saat itu, hubungan antara Iran dan Amerika Serikat terus dipenuhi ketegangan. Konflik tersebut sering berkaitan dengan isu keamanan regional, program nuklir Iran, serta pengaruh Tehran di Timur Tengah.
Ketegangan ini juga berhubungan dengan posisi strategis Iran di dekat Strait of Hormuz, jalur laut yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Setiap konflik militer di kawasan tersebut selalu memunculkan kekhawatiran global karena potensi gangguan terhadap pasokan energi internasional. Selat sempit ini menjadi titik strategis yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Dalam perkembangan terakhir, Iran kembali menjadi target Amerika Serikat dan Israel sebuah negara yang didirikan pada tahun 1948 oleh para pengungsi Yahudi Eropa pasca Nazi di Palestina. Serangan udara, operasi intelijen, serta konflik tidak langsung di berbagai wilayah Timur Tengah menambah kompleksitas situasi keamanan di kawasan, khususnya usai genosida warga Palestina di Gaza.
Sebagian analis melihat konflik modern ini sebagai kelanjutan dari sejarah panjang perebutan pengaruh di Teluk Persia. Sejak era Ottoman dan Qajar hingga masa kini, kawasan tersebut selalu menjadi arena persaingan kekuatan besar.
Dengan demikian, konflik yang terjadi hari ini tidak dapat dipahami hanya sebagai peristiwa kontemporer. Ia merupakan bagian dari sejarah panjang geopolitik Teluk Persia yang telah berlangsung lebih dari satu abad.
Dari perebutan pengaruh kekaisaran, intervensi kolonial, hingga persaingan energi global, kawasan Teluk Persia tetap menjadi salah satu pusat konflik paling strategis di dunia modern.
